Rela jual rumah orangtua, demi bisa tinggal di kost sambil slow living. Sungguh membingungkan

Nemu konten ini..

Sungguh caption yang membingungkan
😆😆😆

Setelah menjelajah kolom komentar, akhirnya saya berhasil merangkai kisahnya secara utuh.

Singkatnya…
Kedua orangtuanya bercerai.
Masing-masing menikah lagi
Dia, suami dan anak-anak dipersilahkan tinggal di rumah orangtua.

Janjinya orangtua, rumah itu untuk dia
Tapi tidak ada surat hibah.

Tibalah masa, kedua orangtuanya kesulitan keuangan, dan ingin menjual rumah yang dia tinggali.

Awalnya mungkin menolak, tapi akhirnya rumah itu dijual, duitnya dibagi rata kepada kedua orangtuanya.

Dia dapat bagian.
Tapi duitnya ga cukup untuk beli rumah baru atau kontrak rumah setahun.

Dia sekeluarga lalu merantau ke Bali untuk mencari nafkah, dan sekarang tinggal di kos-kosan untuk berhemat.

Disinilah letak rancu nya kalimat yang dia buat.

“Rela jual rumah orangtua.”

Padahal itu bukan harta miliknya
Orangtuanya masih hidup, jadi bukan harta waris
Hibahpun tidak ada surat legalitas.

Ortunya masih berhak atas rumah itu

Kan ortunya juga yang beli.

Sebagai anak, sudah berkeluarga, anaknya banyak pula, harusnya sadar diri.
Tidak perlu merasa tersakiti.

Bukan rela atau tidak rela.

Tapi berhak atau tidak berhak.

Harta orangtua itu bukan milik anak, selama belum dihibahkan atau menjadi warisan.

Kalau diambil lagi, ya tidak boleh marah.

(al Fatin)

Komentar