Pilah Pilih TAKDIR

Ada satu jenis logika yang sering kita pakai saat sedang ingin menang sendiri: logika takdir versi pilih-pilih.

Kalau diingatkan, “Jangan sering-sering makan mie instan, jangan kebanyakan es boba. Gula tinggi, natrium tinggi, tubuhmu bukan mesin fotokopi,” jawabnya enteng, “Ah, mati itu sudah ada waktunya. Bukan karena mie. Bukan karena boba.”

Takdir dijadikan tameng. Seolah-olah takdir itu kartu sakti yang bisa membebaskan kita dari tanggung jawab terhadap tubuh sendiri.

Tapi orang yang sama akan bangun pagi, mandi, berangkat kerja, lembur sampai malam. Kenapa? Karena rezeki harus dicari. Karena kalau tidak usaha, dapur tidak ngebul. Karena hidup butuh ikhtiar.

Padahal kalau mau konsisten, bukankah rezeki juga sudah Allah tentukan?

Kenapa untuk makan sembarangan kita pakai dalih “takdir”, tapi untuk cari uang kita pakai dalih “ikhtiar”?

Sepertinya yang salah bukan pada pemahaman takdir, tapi pada cara kita memakainya.

  • Takdir dipakai untuk membenarkan malas menjaga diri, tapi tidak dipakai untuk membenarkan malas bekerja.
  • Padahal dua-duanya sama-sama bagian dari hidup yang diatur Allah.

Tubuh ini amanah. Bukan sekadar wadah untuk menunggu ajal. Ia titipan yang harus dirawat. Kita tidak bisa seenaknya berkata, “Kalau rusak ya sudah, takdir.” Sebab Allah juga menakdirkan sebab dan akibat. Menakdirkan hukum alam. Menakdirkan bahwa gula berlebihan merusak, garam berlebihan mengganggu, kurang tidur melemahkan.

Takdir bukan alasan untuk sembrono.

Kalau kita percaya rezeki sudah diatur, tapi tetap bekerja, itu karena kita paham satu hal: Allah menakdirkan rezeki melalui usaha. Maka semestinya kita juga paham, Allah menakdirkan kesehatan melalui penjagaan.

Mati memang sudah ada waktunya. Tapi cara kita sampai ke waktu itu, penuh dengan pilihan-pilihan kecil setiap hari. Pilihan apa yang masuk ke mulut. Pilihan jam berapa tidur. Pilihan untuk bergerak atau rebahan terus.

Sering kali kita ingin terlihat tawakal, padahal sebenarnya sedang mencari pembenaran.

Tawakal itu setelah ikhtiar. Bukan pengganti ikhtiar.

Dan mungkin, menjaga diri dari kebiasaan buruk adalah bentuk syukur yang paling sederhana. Bukan karena takut mati, tapi karena sadar hidup ini terlalu berharga untuk dirusak pelan-pelan sambil berlindung di balik kata “takdir.”

(Dwy Sadoellah)

Komentar