PERTEMUAN PRESIDEN DAN TOKOH-TOKOH KRITIS
Oleh: Joko Handipaningrat (Konsultan kreatif)
Pertemuan Presiden dengan sejumlah tokoh kritis di Kertanegara beberapa hari lalu patut dibaca sebagai terobosan komunikasi politik. Bukan semata soal siapa yang hadir, melainkan apa yang sedang dibuka kembali: ruang dialog yang selama ini tersumbat.
Sering kali publik bertanya: mengapa Presiden perlu mendengar masukan dari luar? Bukankah di sekelilingnya banyak staf ahli, menteri, dan lingkar kekuasaan yang lengkap?
Pengalaman saya menunjukkan bahwa persoalannya bukan pada kualitas orang-orang di sekitar Presiden, melainkan pada mekanisme penyampaian masukan itu sendiri.
Jangan membayangkan bahwa sosok-sosok di sekitar Presiden, bahkan staf ahlinya sekalipun, akan dengan mudah “membisiki” Presiden, khususnya jika sifatnya “inisiatif atau gagasan dari bawah”.
Maret 2012 saya diundang ke Cikeas. Saat mana Partai Demokrat diterpa prahara bertubi-tubi karena sejumlah kadernya dicokok KPK, beberapa bahkan sudah divonis. Ramai kala itu berbagai media memprediksi bahwa gara-gara itulah peroleh suara Partai Demokrat pada Pemilu 2014 diprediksi akan anjlog, dari sebelumnya meraih 21% menjadi 6,7%.
Saya tidak ingin mengatakan Ketua Umum PD yang sekaligus Presiden Republik Indonesia kala itu, panik. Namun yang pasti, sebagai nakoda kapal ia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan kapal.
Maka Sabtu 10 Maret 2012, saya kaget karena diundang ke Cikeas. Apa agendanya? Mempresentasikan Grand Strategi Komunikasi Penyelamatan PD.

Dari sebuah sumber saya memperoleh informasi, bahwa salah satu nama konsultan lain yang sedianya akan diundang adalah Choel Malarangeng. Ketika kemudian saya bertanya mengapa saya yang dipilih, salah seorang Menteri mengatakan: “Performa Mas Joko selama sidang2 di Komisi X DPR-RI dipantau, dan Mas Joko dianggap sebagai sosok yang tepat”.
Sejumlah teman sesama anggota DPR-RI 2004 – 2009 masih ingat, dalam beberapa kali sidang saya mempresentasikan “Strategi Branding Indonesia”, juga pariwisata. Usai presentasi, Herry Achmadi (ex Ketua Dema ITB) sebagai Ketua Komisi X setengah berseloroh bilang kepada Menteri Pariwisata, “Harusnya Mas Joko yang duduk di kursi Anda, Pak… because he knows the correct strategy for developing tourism.”.
Di temani anak bungsu, saya melakukan presentasi di hadapan Presiden SBY, Ibu Negara, AHY, Mas Ibas, lima Menteri, Kasad dan sebelas Staf Ahli, saya presentasikan Strategi Rebranding dan Repositioning PD. Butuh waktu satu setengah jam untuk menguraikannya.
Poin terpenting dari strategi yang saya buat adalah: bahwa persepsi publik terhadap PD akan dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah sebagai “ruling party” (partai yang berkuasa). Sejatinya, ada sembilan program pemerintah kala itu yang sebenarnya sangat bagus, namun karena komunikasi yang buruk, maka rakyat hampir tidak merasakan/melihatnya. Program itu antara lain: KUR (Kredit Usaha Rakyat), Electricity, Peremajaan Alusista TNI, Pemberantasan Korupsi (pada era SBYlah besan dan kader2 PD masuk penjara), dll.
Usai presentasi, ruangan Cikeas hening. Tak ada satupun yang bersuara. Presiden melihat berkeliling, lalu menarik nafas dalam, kemudian tersenyum dan berucap, “Mas Joko, this is a fascinating presentation. I’d say it’s definitely “out of the box”.
Maka pada malam itu Ketum PD yang juga Presiden RI, memutuskan setahun saya menangani Strategi Rebranding PD.
Kembali pada substansi tulisan ini: “orang-orang di sekeliling Presiden tak mudah memberikan masukan kepada Presiden”. Ini tampak ketika selama 9 bulan saya bekerja menangani strategi komunikasi partai itu.
Salah satu eksekusi tayangan media yang harus kami produksi adalah, Presiden akan tampil dengan uniform TNI, dengan tone & manner yang sangat berwibawa dan penuh kebanggaan, berkata di depan kamera, “Insha Allah bangsa ini tak akan lagi direndahkan oleh bangsa lain. Dalam lima tahun terakhir kita telah melakukan peremajaan Alutsista yang luar biasa”. Mulai dari Main Battle Tank seperti Leopard 2A4, Marder 1A3 hingga Tank Amfibi dan kendaraan tempur dan taktis lainnya.
Intinya, Presiden harus tampil sangat gagah, confidence, tanpa harus berkesan pamer, dan berbicara sesuai script.
Di titik ini, seluruh Staf Ahli Presiden saling berpandangan. Beberapa berbisik-bisik. Kemudian, Prof. Daniel Sparingga mewakili mereka, berkata, “Mas Joko saja yang langsung menyampaikan hal itu kepada Presiden…”.
Ternyata tak mudah bagi para Staf Ahli Presiden sekalipun untuk menyampaikan hal semacam itu kepada Presiden. Saya tidak tahu, apakah memang ada entah SOP, atau “manner” (tata krama) atau apa. Akhirnya saya sendiri yang menyampaikan hal itu di Cikeas, yang disambut dengan sangat baik. Dan beberapa hari kemudian dalam syuting, dengan gagah beruniform Jenderal Marinir, Presiden menyampaikan persis kalimat itu di depan kamera.
Itu sebabnya, saya termasuk yang bergembira ketika Said Didu, Abraham Samad, Siti Zuhro dll diterima Presiden untuk memberi masukan. Sebuah pertemuan dengan tokoh-tokoh kritis yang memecah kebuntuan. Karena dalam praktiknya, tidak selalu mudah bagi lingkungan sekitar Presiden menyampaikan inisiatif secara langsung.
Sebelum akhirnya diputuskan untuk menunjuk saya sebagai pelaksana strategi itu, SBY selaku Ketum PD bertanya, “Mas Joko, jika kami melakukan strategi itu… kira-kira akan berapa prosen suara yang kami peroleh nanti pada Pemilu 2014?”. Sejurus saya menghitung lalu menjawab, “11% Pak”. Beliau berpikir sejurus lalu berkata, “Baiklah. Go ahead.”
Lalu berapa perolehan Partai Demokrat pada perhitungan suara Pemilu 2014? Ternyata hasilnya adalah 10,2%. Perhitungan saya hanya meleset 0,8%. Seorang Menteri mengabarkan bahwa beliau happy dengan angka itu. Alhamdulillah. (*)
_______________________________________
*Joko Santoso Handipaningrat adalah seorang politikus senior, penulis, dan konsultan kreatif yang dikenal sebagai pencipta lambang Matahari Putih Partai Amanat Nasional (PAN).
Berikut adalah profil singkatnya:
- Peran Politik: Merupakan salah satu tokoh “sesepuh” di internal PAN. Ia merupakan tokoh penting dalam pendirian PAN bersama Amien Rais pada 23 Agustus 1998. Ia menjabat sebagai Wakil Sekjen PAN untuk periode pertama. Anggota DPR RI periode 2004–2009.
- Karier Profesional: Berprofesi sebagai Creative Director dan Strategic Thinker.
- Aktivitas Publik: Aktif sebagai penulis dan pemerhati kehidupan yang sering membagikan pemikirannya melalui media sosial, terutama di halaman Facebook Joko Handipaningrat.







Komentar