PERANG GLOKAL: HAMAS DAN TALIBAN
Oleh Ayik Heriansyah
Pertanyaan mengemuka di tengah konflik antara Hamas dan Israel memasuki fase eskalasi. Apakah Hamas memiliki daya tahan seperti Taliban di Afghanistan? Apakah Hamas bisa memenangkan perang panjang melawan Israel sebagaimana Taliban akhirnya berhasil mengusir Amerika?
Untuk menjawabnya, kita perlu membaca konflik Gaza dalam kerangka perang glokal yaitu perang yang berlangsung secara lokal, tetapi dibentuk dan dipengaruhi oleh konfigurasi kekuatan global. Istilah glokal (global–lokal) berakar dari pemikiran sosiolog Roland Robertson tentang keterhubungan antara dinamika global dan realitas lokal.
Dalam lanskap konflik abad ke-21, perang tidak lagi sekadar benturan dua negara berdaulat. Banyak konflik terjadi di suatu wilayah, namun memiliki konstelasi politik berskala dunia. Inilah yang disebut perang glokal. Lokal dalam arena tempur, global dalam kepentingan dan dampaknya. Konflik Hamas–Israel merupakan salah satu contoh paling jelas dari fenomena tersebut.
Secara geografis, konflik Hamas–Israel terkonsentrasi di Gaza dan sekitarnya. Namun secara politik, ia melibatkan diplomasi intensif di forum multilateral, tekanan negara-negara besar, dukungan regional, hingga mobilisasi opini publik global. Setiap eskalasi militer segera memicu respons internasional. Ini menunjukkan bahwa konflik tersebut tidak pernah benar-benar berdiri sendiri sebagai perang lokal murni.
Karakter perang glokal dalam kasus ini tampak jelas. Pertama, asimetri kekuatan militer. Israel memiliki kapasitas pertahanan dan teknologi yang jauh lebih maju. Namun Hamas menunjukkan daya tahan organisasi dan kemampuan mobilisasi yang membuat konflik berlarut. Asimetri tidak otomatis menghadirkan penyelesaian cepat karena faktor sosial dan politik lokal tetap menentukan.
Kedua, pertarungan legitimasi dan narasi. Selain pertempuran fisik, perang juga berlangsung di ruang informasi global. Isu hukum humaniter, hak asasi manusia, dan proporsionalitas penggunaan kekuatan menjadi bagian dari diskursus internasional. Media dan platform digital memperluas dampak konflik, menjadikannya bahan perdebatan lintas negara dan ideologi.
Ketiga, dampak geopolitik. Konflik Hamas–Israel memengaruhi hubungan antarnegara di kawasan dan sikap kekuatan besar dunia. Dukungan diplomatik, bantuan militer, atau tekanan politik dari luar kawasan memperlihatkan bahwa Gaza adalah simpul lokal dalam jaringan kepentingan global.
Untuk memahami pertanyaan “Hamas sekuat Taliban?”, pengalaman Afghanistan memberi konteks historis penting. Pada 1980-an, ketika Uni Soviet menginvasi Afghanistan, perlawanan Mujahidin berkembang menjadi simbol global. Tokoh seperti Abdullah Azzam berperan memobilisasi relawan dari berbagai negara dan mendorong solidaritas lintas batas. Konflik lokal itu berubah menjadi ajang pertarungan geopolitik global dalam konteks Perang Dingin.
Setelah Soviet mundur pada 1989, Afghanistan memasuki fase perang saudara yang melahirkan Taliban. Periode pertama pemerintahan Taliban di Afghanistan berlangsung dari tahun 1996 hingga Oktober 2001. Lalu dibombardir Amerika dan sekutunya. Taliban menyingkir. Afghanistan diperintah oleh rezim boneka Amerika.
Selama dua dekade Afghanistan tidak stabil. Taliban melancarkan serangan secara maraton dengan strategi gerilya dari gunung ke gunung dari lembah ke lembah. Intervensi militer yang dipimpin Amerika Serikat dapat diakhiri dengan kembalinya Taliban ke tampuk kekuasaan pada 2021. Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa aktor lokal dengan daya tahan tinggi dapat bertahan menghadapi kekuatan global.
Namun, apakah pola itu identik dengan Hamas? Ada persamaan dalam hal daya tahan dan kemampuan bertahan dalam konflik asimetris. Tetapi ada pula perbedaan konteks yang signifikan, baik dalam struktur sosial, konfigurasi wilayah, maupun dinamika regional. Taliban beroperasi dalam lanskap negara yang luas dengan kompleksitas etnis dan geografis tertentu, sementara Gaza adalah wilayah sempit dengan kepadatan tinggi dan kontrol eksternal yang ketat.
Dalam kerangka perang glokal, kekuatan lokal memang bisa menjadi faktor penentu. Namun kemenangan, jika itu tercapai, tidak otomatis berarti stabilitas atau kesejahteraan. Pertanyaan mendasar bukan hanya apakah Hamas sekuat Taliban dalam daya tahan, melainkan apakah dinamika konflik ini dapat diarahkan menuju solusi politik yang berkelanjutan menuju terciptanya perdamaian abadi?
(*)







Meetbucket provide few simple steps how to use Meetbucket to setup a new meeting, invite people, start meeting and connecting