Saya jelaskan secara sederhana ya. Iran itu beda antara Kepala Negara dengan Kepala Pemerintahan. Kalau di Indonesia kan dua-duanya sama, dijabat oleh presiden. Nah di Iran Kepala Negara dijabat oleh Supreme Leadernya (Pemimpin Tertinggi), sekarang oleh Ayatullah Sayid Ali Khamenei dan Kepala Pemerintahnya dijabat oleh Presiden Masoud Pezeshkian.
Apa beda fungsi dan wewenang keduanya?
Sederhananya begini:
🟢Supreme Leader (Rahbar) sebagai kepala negara tertinggi berfungsi sebagai penentu arah besar negara (politik, pertahanan, keamanan, ideologi). Wewenangnya sebagai panglima tertinggi militer, mengangkat pimpinan penting (kepala kehakiman, panglima militer, dll), bisa membatalkan keputusan strategis bila bertentangan dengan garis besar negara. Jadi sebagai panglima tertinggi militer, Ayatullah Khameneilah yang menentukan kapan harus menyerang dan kapan harus bertahan.
Terus Supreme Leader ini tidak dipilih rakyat langsung. Ia dipilih oleh Majelis Ahli (Assembly of Experts), yaitu ulama yang dipilih rakyat lewat pemilu.
🔴Nah kalau Presiden saat ini Pezeshkian, fungsinya adalah menjalankan pemerintahan sehari-hari. Wewenangnya adalah ekonomi, kabinet, anggaran, pelayanan publik, dan hubungan luar negeri secara operasional. Dipilih langsung oleh rakyat lewat pemilu. Dia yang membentuk kabinet dan mengurus roda pemerintahan, tapi tetap dalam kerangka kebijakan besar yang ditetapkan Supreme Leader.
Ringkasnya, Supreme Leader itu menentukan arah, Presiden menjalankan mesin.
Karena itu, kalau konteksnya demonstrasi soal ekonomi seperti belakangan ini terjadi, maka yang secara logika jadi alamat protes adalah Presiden dan kabinetnya, bukan Supreme Leader.
Karena yang mengurus ekonomi, harga barang, nilai tukar, anggaran, kebijakan pasar itu pemerintah (Presiden & menteri-menterinya). Bukan kewenangan langsung Ayatullah Khamenei.
Itu sebabnya, ketika muncul slogan seperti “mati diktator”, secara struktur politik Iran itu tidak nyambung dengan objek tuntutan demonstrasi yang sebenarnya adalah kinerja ekonomi pemerintahan Pezeshkian.
Bahkan bisa dibilang, publik memang punya alasan rasional untuk kecewa pada performa kabinet ekonomi. Pezeshkian memecat kepala bank sentral, tetapi menggantinya dengan Dr. Hemmati, figur lama era Rouhani yang di mata banyak pelaku pasar tidak meninggalkan catatan keberhasilan dalam menstabilkan ekonomi. Akibatnya, pasar tidak melihat ini sebagai arah baru, melainkan pengulangan kebijakan lama.
Reaksi pasar pun bergejolak. Protes-protes damai dari pelaku pasar menjadi hal yang wajar dalam konteks ini. Situasi makin tidak membantu ketika kemarin Hemmati justru tidak hadir dalam sidang parlemen yang membahas kebijakan strategis ekonomi menjelang tutup tahun, dan mendapat teguran keras dari anggota parlemen. Ini memperkuat kesan di publik bahwa tim ekonomi pemerintah belum menunjukkan keseriusan dan ketegasan arah kebijakan.
Jadi kalau dilihat dari struktur kekuasaan Iran dan dinamika ekonominya, demonstrasi ekonomi itu sangat masuk akal ditujukan kepada Presiden dan kabinetnya. Bukan kepada Supreme Leader. Tapi oleh agen asing, yang membajak dan mengeksploitasi demonstrasi legal dan sah pelaku pasar menjadi isu pergantian rezim. Jadi wajar dong rakyat Iran yang mencintai pemimpinnya jadi marah dan jutaan turun ke jalan menyatakan suaranya, bahwa rakyat Iran masih bersama Ayatullah Khamenei.
(Ismail Amin)







Komentar