Partai Gerakan Rakyat: Ancaman Ceruk Suara PKS?
✍🏻Bang Irfan
Kemunculan Partai Gerakan Rakyat menarik perhatian publik, terutama karena ia disebut sebagai metamorfosis dari tim pemenangan Anies Baswedan, yang dikenal luas dengan sebutan “Anak Abah”. Transformasi dari tim kampanye menjadi gerakan sosial, lalu berujung pada pembentukan partai politik, bukanlah fenomena baru dalam sejarah politik Indonesia. Namun, yang membuat Partai Gerakan Rakyat menarik adalah konteks lahirnya: pasca-Pilpres yang memperlihatkan basis dukungan Anies cukup besar dan solid.
Pertanyaan krusialnya: apakah Partai Gerakan Rakyat akan menggerus ceruk suara PKS?
Secara sosiologis dan elektoral, irisan pemilih PKS dan pemilih Anies memang cukup signifikan. Keduanya sama-sama kuat di segmen pemilih urban, kelas menengah Muslim, serta kelompok pemilih yang kritis terhadap status quo kekuasaan. Dalam Pilpres terakhir, PKS menjadi salah satu tulang punggung utama mesin politik Anies. Artinya, sebagian basis PKS memiliki kedekatan emosional dan ideologis dengan figur Anies, bukan semata dengan partai.
Di titik inilah Partai Gerakan Rakyat berpotensi menjadi kompetitor langsung PKS. Jika partai baru ini mampu mengkapitalisasi loyalitas personal terhadap Anies menjadi loyalitas kelembagaan, maka migrasi suara sangat mungkin terjadi. Apalagi, politik Indonesia semakin bergerak ke arah personality-based politics, di mana figur seringkali lebih menentukan dibanding ideologi partai.
Bagi pemilih yang lebih mengidolakan Anies ketimbang PKS sebagai institusi, Partai Gerakan Rakyat bisa menjadi rumah politik baru yang lebih relevan secara emosional.
Namun, situasinya tidak sesederhana itu. PKS memiliki keunggulan yang tidak dimiliki partai baru: struktur organisasi yang mapan, kaderisasi ideologis, serta basis militan yang relatif stabil. PKS bukan sekadar partai elektoral, melainkan juga jaringan sosial-politik yang tertanam dalam berbagai komunitas.
Pengalaman menunjukkan bahwa membangun partai baru untuk menyaingi PKS di segmen pemilih Islam perkotaan bukan perkara mudah.
Kasus Partai Gelora bisa menjadi contoh penting. Partai ini lahir dari eks-elite PKS, memiliki basis kader yang relatif sejenis, bahkan membawa narasi pembaruan. Namun dalam di pemilu terakhir, Gelora gagal menembus dominasi PKS dan tidak mampu menggerus suara PKS secara signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa loyalitas pemilih PKS tidak mudah dipindahkan hanya dengan figur atau simbol baru, karena telah terikat dalam jaringan ideologis, sosial, dan struktural yang kuat.
Selain itu, faktor relasi personal juga perlu diperhitungkan. Ketua Majelis Syura PKS dikenal sebagai sahabat lama Anies sejak masa mereka berinteraksi di lingkungan akademik Paramadina. Hubungan personal ini memberi sinyal bahwa relasi Anies–PKS tidak semata relasi transaksional elektoral, tetapi juga memiliki dimensi historis dan emosional. Dalam politik Indonesia, jaringan pertemanan elite sering kali menjadi fondasi koalisi jangka panjang. Ini membuat kemungkinan konflik terbuka antara Partai Gerakan Rakyat dan PKS menjadi relatif kecil, setidaknya pada tahap awal.
Dengan presidential threshold yang kini menjadi 0%, peluang manuver politik semakin terbuka. Partai-partai tidak lagi terikat pada koalisi besar sejak awal, sehingga konfigurasi politik bisa jauh lebih cair dan dinamis. Dalam skenario ini, Partai Gerakan Rakyat bisa berfungsi sebagai kendaraan politik baru Anies, sementara PKS tetap menjadi mitra strategis dengan kekuatan mesin organisasi yang sudah mapan.
Di sisi lain, dinamika ini semakin kompleks dengan keterlibatan langsung Joko Widodo melalui PSI. Turunnya Jokowi ke lapangan bersama PSI menandakan bahwa politik ke depan akan semakin personal dan berbasis figur.
Jika kubu Jokowi memiliki PSI sebagai perpanjangan pengaruh, maka kubu Anies tentu membutuhkan wadah serupa, dan Partai Gerakan Rakyat bisa mengisi peran tersebut.
Dengan demikian, Partai Gerakan Rakyat tidak hanya harus dibaca sebagai ancaman bagi PKS, tetapi juga sebagai bagian dari re-konfigurasi besar politik pasca-threshold nol persen. Pengalaman Partai Gelora menunjukkan bahwa mengalahkan PKS di ceruk pemilih inti bukan perkara mudah. Ditambah lagi dengan relasi personal Anies dan elite PKS yang cukup erat, lebih realistis melihat Partai Gerakan Rakyat bukan sebagai rival mutlak, melainkan sebagai potensi partner strategis.
Dalam politik Indonesia yang cair, persaingan dan koalisi sering berjalan simultan: rival di lapangan, tetapi sekutu di panggung nasional.
(*)







Komentar