OVER-DRAMATISASI PURBAYA
Terlalu mengada-ada menteri ini. Narasi mau nyama-nyamakan kasus persoalan ekonomi keuangan hari-hari ini dengan krisis 1998.
Ya jelas beda lah.
Krisis 1998 pada dasarnya krisis moneter dan sistem keuangan. Krisis ditandai oleh pelemahan nilai tukar yang ekstrem, runtuhnya sistem perbankan, pelarian modal besar-besaran, lonjakan utang luar negeri, inflasi tinggi dan instabilitas politik.
Sedang kondisi ekonomi Indonesia sejak Q3 2025 ngak sepenuhnya mencerminkan situasi-situasi di atas. Nilai tukar rupiah emang ngalami tekanan, tetapi ngak ngalami kejatuhan drastis. Perbankan tetap likuid dan relatif sehat. Inflasi meningkat, namun masih terkendali. Tidak terjadi kepanikan sistemik di sektor keuangan maupun krisis utang luar negeri.
Kondisi nyata (yang bener) yang dihadapi Indonesia saat ini tampaknya ya bukan krisis moneter, tapi: tekanan fiskal, perlambatan pertumbuhan ekonomi, lemahnya momentum investasi, masalah struktural pada penerimaan negara: penurunan penerimaan negara dari sumberdaya alam.
- Stimulus tanpa pertumbuhan?
- Migas: masalah struktural yang berlarut-larut.
- Perbaikan data? ini bukan pengganti kebijakan.
Menyamakan kondisi ini dengan krisis 1998 berisiko mencampuradukkan 2 persoalan ekonomi yang sangat berbeda, sekaligus berpotensi melebih-lebihkan efektivitas kebijakan yang dijalankan saat ini.
Membingkai tantangan ekonomi saat ini sebagai pengulangan (pake narasi: “kalo ngak dicegah ekonomi balik kayak krisis 1998”) mungkin menguntungkan secara naratif, namun berisiko mengalihkan perhatian dari persoalan yang lebih mendasar: masalah ekonomi Indonesia hari ini bukanlah kehancuran, melainkan stagnasi—dan stagnasi membutuhkan reformasi, bukan sekadar pembelaan.
Jadi intinya, yang terjadi dari Q3 2025 sampai sekarang bukan krisis kayak 1998 tapi stagnasi ekonomi. Bukan keruntuhan ekonomi tapi kemandekan kebijakan ekonomi.
Beda kan pengertiannya.
Yang “dijual” narasinya “hampir kayak 1998”, padahal yang terjadi: krisis ide, krisis terobosan, krisis arah kebijakan.
Stabilitas “dipamerin”, tapi pertumbuhan ekonomi ngak dateng-dateng. Data rapi, dirapikan, tapi rakyat Indonesia tetap sepi peluang.
Retorika omon-omon krisis dipakai, buat nutupin kemandekan kebijakan ekonomi.
Singkatnya: negara ngak jatuh — tapi riilnya sekarang ngak jalan juga.
Dan yang begini lebih berbahaya dari krisis.
5 Feb 2026.
(Hans Midas Simanjuntak)







Komentar