Ngeri! Ternyata Rudal-Rudal Iran Hasil Kolab dengan Korea Utara

Di tengah perang sengit Iran melawan Israel dan Amerika Serikat tahun 2026, fakta mengejutkan terungkap. Banyak rudal balistik yang ditembakkan Iran ternyata berasal dari teknologi dan pasokan Korea Utara (Korut). Pakar militer menyebut kolaborasi kedua negara ini sudah berlangsung puluhan tahun dan menjadi tulang punggung program rudal Tehran.

Menurut Bruce E. Bechtol Jr., profesor ilmu politik dan ahli hubungan Iran-Korea Utara, “Korea Utara adalah penjual, Iran adalah pembeli.” Kerja sama ini melibatkan transfer rudal langsung, komponen, teknisi, hingga pembangunan pabrik produksi di Iran.

Rudal Musudan yang Ditembak ke Diego Garcia

Salah satu bukti paling mencolok adalah serangan Iran ke pangkalan militer AS-Inggris di Diego Garcia (Samudra Hindia) pada Maret 2026. Rudal yang digunakan adalah Musudan (juga dikenal sebagai BM-25 atau Hwasong-10), rudal intermediate-range ballistic missile (IRBM) buatan Korea Utara.

Iran membeli 19 unit Musudan langsung dari Pyongyang pada tahun 2005. Rudal ini mampu menempuh jarak ribuan kilometer, dan salah satunya diluncurkan ke Diego Garcia yang berjarak sekitar 4.000 km dari Iran. Meski serangan gagal (satu rudal jatuh di udara, satu lagi dicegat), ini menandai penggunaan pertama rudal jarak menengah Iran dalam pertempuran.

Rudal Lain yang “Berbau” Korea Utara

Bukan hanya Musudan. Hampir seluruh program rudal balistik berbahan bakar cair (liquid-fuel) Iran berakar dari teknologi Pyongyang:

Qiam (rudal jarak pendek yang sering dipakai serang basis AS dan negara tetangga) → Upgrade dari Scud-C. Korea Utara kirim ratusan Scud sejak 1980-an dan bangun pabriknya di Iran. Teknisi Korut masih membantu produksi hingga sekarang.

Shahab-3, Emad, dan Ghadr → Hampir salinan persis dari rudal No Dong (Nodong) milik Korut. Pyongyang kirim sekitar 150 unit pada akhir 1990-an, lengkap dengan fasilitas produksi.

Khorramshahr-4 → Punya hulu ledak berat (1,5–2 ton) dan desain mirip Musudan, dikembangkan dengan bantuan teknis Korea Utara.

Bechtol menegaskan bahwa rudal-rudal ini sudah sering ditembakkan ke Israel, basis AS di Teluk, dan target regional lainnya selama konflik 2026.

Kolaborasi yang Sudah Puluhan Tahun

Kerja sama Iran-Korea Utara dimulai sejak Perang Iran-Irak (1980-an). Pyongyang menjual rudal Scud, lalu membantu bangun industri rudal domestik Iran. Transaksi dibayar dengan uang tunai dan minyak.

Selain rudal, ada indikasi transfer teknologi booster roket 80-ton (berbasis mesin RD-250 seperti yang dipakai ICBM Hwasong-15 Korut) sejak 2013. Ini membuka peluang Iran mengembangkan rudal balistik antar benua (ICBM) yang bisa menjangkau Amerika Serikat.

Meski demikian, belum ada bukti kuat bahwa Korut mengirim rudal solid-fuel terbaru seperti Hwasong-18 dalam jumlah besar ke Iran. Kolaborasi lebih banyak berupa desain, komponen, dan bantuan teknisi.

Mengapa Ini Berbahaya?

Kolaborasi ini membuat Iran punya kemampuan serang jarak jauh meski berada di bawah tekanan sanksi internasional. Sementara itu, Kim Jong Un disebut-sebut menggunakan perang Iran sebagai “pembenaran” untuk memperkuat program nuklir dan rudalnya sendiri.

Pakar Barat khawatir, jika kolaborasi ini terus berlanjut, ancaman rudal dari “poros perlawanan” (Iran + Korut + Rusia) akan semakin sulit dihadapi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar