✍️Mariana Hernandez (jurnalis Meksiko)
Menurut saya, pria ini adalah salah satu manusia terburuk dalam dekade kita. Seorang pria yang, bertahun-tahun dari sekarang, akan dipelajari sebagaimana saya mempelajari tokoh-tokoh sebelum dirinya. Sebagaimana kita mempelajari para tiran dan orang-orang yang pada akhirnya dicap jahat oleh sejarah.
Saya bisa bicara banyak tentang apa yang ia sampaikan dari podium itu (pidato di Sidang Umum PBB). Dan dengan mengatakan bahwa saya tidak menyukainya, saya sebenarnya sudah mengakui bahwa saya tidak objektif. Yah, saya hanyalah manusia.
Jadi, mari kita kesampingkan dulu perasaan saya dan beralih ke fakta sejarah. Anda bisa memeriksa sendiri tanggal dan angkanya, tanpa harus percaya begitu saja bahwa saya bersikap adil. Pendapat saya baru akan muncul di bagian akhir, dan saya akan memberi tahu Anda kapan bagian itu dimulai.
Mari kita lihat bagian akhir pidatonya.
“Kisah bangsa saya, bangsa Yahudi, telah berlangsung selama lebih dari 3.000 tahun. Bahasa yang kami tuturkan saat ini sama dengan bahasa yang kami gunakan kala itu. Kami mendiami tanah yang sama dengan tempat leluhur kami tinggal.”
“Para nabi kami, tujuan hidup kami, dan bangsa kami adalah sesuatu yang unik dalam sejarah.”
Lalu, ia membacakan kutipan tulisan Mark Twain (novelis dan humoris AS) dari tahun 1899 dengan lantang di hadapan Majelis Umum:
“Bangsa Mesir, Babilonia, dan Persia pernah bangkit, memenuhi dunia dengan gaung dan kemegahan, lalu memudar menjadi sekadar bayang-bayang mimpi dan akhirnya lenyap. Bangsa-bangsa lain pun bermunculan dan sempat mengusung obor kejayaan mereka tinggi-tinggi, namun api itu padam, dan kini mereka berada dalam senjakala. Bangsa Yahudi menyaksikan kebangkitan dan keruntuhan mereka semua, serta berhasil melampaui mereka semua.”
Sekarang, mari kita bahas sejarahnya.
Mesir hadir di gedung itu minggu ini. Seratus juta jiwa. Catatan sejarah yang membentang sekitar 5.000 tahun. Kini memudar menjadi sekadar bayang-bayang mimpi.
Irak, dengan empat puluh lima juta penduduknya, terletak di antara dua sungai yang sama tempat Babilonia pernah berdiri. Bangsa Sumeria menulis kalimat-kalimat pertama yang pernah dibuat manusia, sekitar 5.300 tahun yang lalu. Mereka menciptakan kitab hukum pertama. Juga puisi pertama yang mencantumkan nama penulisnya—seorang perempuan bernama Enheduanna—pada 4.300 tahun silam.
Iran, yang presidennya berdiri di podium yang sama kemarin—mengenakan pakaian hitam sambil memegang foto-foto orang-orang mereka yang telah gugur. Penganut Zoroaster telah memanjatkan doa di negeri itu selama sekitar 3.000 tahun, dan mereka masih terus berdoa di sana hingga kini.
China: memiliki catatan tertulis sejak sekitar tahun 1200 SM—kurun waktu sekitar 3.200 tahun—dan 1,4 miliar orang masih menggunakan sistem tulisan tersebut hingga hari ini.
India: kitab Weda, yang berusia sekitar 3.500 tahun, masih dilantunkan dalam bahasa Sanskerta oleh orang-orang masa kini.
Yunani: tempat bahasanya telah dituliskan selama sekitar 3.400 tahun.
Australia: bangsa Aborigin telah mendiami wilayah ini selama 65.000 tahun dan mewariskan sejarah lisan mengenai peristiwa nyata yang terjadi sebelum zaman es terakhir. Ini adalah kebudayaan berkelanjutan tertua di muka bumi.
Dan belahan dunia tempat saya berasal. Bolivia, Guatemala, Peru, Meksiko, Paraguay—tempat bahasa Guarani menjadi bahasa resmi negara. Quechua, Nahuatl, Aymara, Maya. Manusia telah menghuni kedua benua ini setidaknya selama 15.000 tahun, dan keturunan mereka kini juga berada di Oklahoma, Arizona, serta wilayah Dakota.
Perwakilan dari masing-masing bangsa tersebut telah atau akan berbicara dari podium yang sama minggu ini, dan hari ini, seorang pria berdiri di sana serta membacakan kata-kata: Mark Twain.
Tak satu pun dari hal itu mengurangi satu tahun pun dari sejarah Yahudi. Tiga ribu tahun adalah rentang waktu yang luar biasa. Itu adalah fakta. Kebenaran itu tidak bergantung pada lenyapnya sejarah bangsa lain agar tetap valid. Dia juga mengatakan tidak masuk akal menyebut negara seukuran New Jersey sebagai penjajah, dan bahwa Inggris serta Prancis-lah yang menciptakan istilah itu, jadi mereka sebaiknya diam saja.
Kolonialisme tidak pernah soal luas wilayah dalam kilometer persegi. Ini soal siapa yang dipindahkan dan siapa yang melakukan pemindahan itu.
Dan bahasa yang dia gunakan hari ini adalah bahasa penjajah: ini tanah kami, dari situlah nama itu berasal, kami sudah ada di sini sejak zaman Musa, bacalah di Alkitab.
Penduduk yang sudah tinggal di sana muncul dalam pidato itu hanya sebagai masalah keamanan. Bukan sebagai tetangga. Bukan sebagai orang yang memiliki hak atas tanah itu.
Ini adalah tindakan negara yang membohongi diri sendiri dengan mengatakan tidak ada penduduk asli di sini. Padahal ada. Mereka masih ada sampai sekarang.
Mereka tidak lenyap. Mereka bukan sekadar khayalan.
Dan sekarang, ini pendapat saya—karena saya bilang akan menyampaikannya saat waktunya tiba.
Jika rentang waktu 3.000 tahun dan ayat Alkitab adalah hal yang menjadikan kalian pihak yang berhak, maka separuh negara di ruangan itu memiliki klaim yang lebih kuat darinya, namun tak satu pun dari mereka yang berdiri di sana membacakan berita kematian pihak lain.
Ini bukan soal sejarah. Ini soal surat izin. Tiga ribu tahun, sebuah buku, seorang nabi, dan tiba-tiba ada golongan manusia kelas atas sementara yang lainnya dianggap sekadar pelengkap pemandangan.
Saya mengatakan ini sebagai seorang Latina, keturunan dari orang-orang yang datang membawa Alkitab dan merampas tanah itu. Orang Spanyol juga punya ayat-ayat suci. Mereka membacakannya dengan lantang di hadapan orang-orang yang tidak mengerti bahasanya, lalu menganggap tindakan itu sah secara hukum. Itulah latar belakang keluarga saya. Saya tidak bicara dari posisi yang bersih dari dosa sejarah.
Itulah sebabnya saya sependapat dengan Sánchez (PM Spanyol) di podium yang sama kemarin. Kita memiliki utang yang sudah lama tertunda.
Pembayarannya bukan berupa uang. Melainkan pemahaman. Menanamkan dalam benak kita bahwa kita semua sama, dan klaim sejarah 3.000 tahun milik siapa pun tidak lebih tinggi derajatnya daripada milik orang lain. Dia berdiri di sebuah gedung yang dipenuhi oleh orang-orang tertua di muka bumi dan membacakan kepada mereka berita kematian mereka sendiri yang dikutip dari sebuah buku humor Amerika terbitan tahun 1899. Mesir ada di sana. Irak ada di sana. Iran telah duduk di kursi itu sehari sebelumnya, sambil memegang foto-foto anak-anak yang tewas.
Tuan, mereka semua ada di ruangan itu. Anda membutuhkan mikrofon untuk memberi tahu mereka bahwa mereka sudah punah.
Dan lihatlah siapa yang tetap tinggal untuk mendengarkannya. Tujuh puluh tujuh delegasi keluar ruangan bahkan sebelum dia mulai berbicara, dan dia menyebut mereka pengecut secara moral saat mereka berlalu pergi. Mereka yang tertinggal memberikan tepuk tangan.
Nah, inilah hal yang sebenarnya ingin saya sampaikan, dan saya menyampaikannya kepada dua kelompok.
Pria itu tidak mewakili orang Yahudi. Dia tidak pernah mewakili mereka. Beberapa suara paling lantang yang menyebutnya sebagai penjahat perang tahun ini justru datang dari kalangan Yahudi—di Tel Aviv, New York, London, hingga Buenos Aires—orang-orang yang menyimpan foto keluarga yang memuat nomor identitas kakek-nenek mereka.
Jadi, jika Anda seorang Yahudi dan Anda bertepuk tangan hari ini, jangan berlindung di balik nenek Anda. Anda tidak sedang membela kaum Anda. Anda sedang membela dia. Itu dua hal yang berbeda, dan Anda tahu itu.
Dan pesan ini untuk teman-teman Kristen saya, dari seorang agnostik yang telah membaca kitab Anda dari awal sampai akhir lebih sering daripada kebanyakan dari Anda.
Anda bertepuk tangan untuk orang ini karena Anda menganggapnya sebagai tiket Anda.
Seseorang mengajarkan kepada Anda bahwa Israel harus utuh dan Bait Allah harus dibangun kembali sebelum Yesus datang kembali. Dan Anda tahu apa yang berdiri di lokasi tempat Bait Allah itu seharusnya berada. Jadi, masjid milik orang lain harus dihancurkan dan anak-anak orang lain harus mati agar linimasa Anda bisa berjalan.
Bacalah versi Anda sendiri sampai tuntas juga. Di dalamnya, orang-orang Yahudi yang Anda elu-elukan itu pun tidak selamat. Sebagian besar dari mereka mati dalam masa kesengsaraan besar (tribulation), dan mereka yang selamat akhirnya berpindah keyakinan. Itu cerita Anda, bukan cerita saya.
Ucapkanlah dengan lantang dan dengarkanlah. Keselamatan Anda membutuhkan kematian anak-anak. Keselamatan itu membutuhkan anak-anak yang tumbuh di bawah ancaman bom, kelaparan, dan terkubur reruntuhan, hanya demi menjaga jam nubuat tetap berjalan. Anak-anak orang lain menjadi bahan bakar bagi keselamatan Anda.
Betapa egoisnya hal itu.
Mereka menggunakan Alkitab Anda untuk melakukan hal yang justru bertolak belakang dengan semua ajaran-Nya. Mereka yang miskin di hadapan Allah. Mereka yang murah hati. Mereka yang membawa damai. Berbahagialah mereka, kata-Nya. Namun, mereka menggunakan kitab-Nya untuk memberkati pihak yang menjatuhkan bom.
Jangan mengikuti manusia. Ikutilah Dia.
Dan jika Anda sampai di pintu itu dengan tangan yang berlumuran perbuatan yang tidak pernah Dia ajarkan, saya rasa Yesus akan mengatakan persis seperti apa yang tertulis dalam kitab Anda sendiri:
Aku tidak pernah mengenal kamu.
Matius 7. Coba lihat. Bagian itu tepat setelah ayat tentang mengenali mereka dari buahnya.
–FB–








Tunggu imam Mahdi muncul…. ANCUR ISREWEL
iblis pake jas