Negara bangkrut?

Negara bangkrut?

Inilah faktanya. Bahwa tahun 2025, total pendapatan Indonesia itu hanyalah: Rp2.756 triliun. Dan dari pendapatan ini 47% alias 1.314 triliun habis buat bayar cicilan pokok + bunga utang.

Itu tuh bukan hoax. Itu fakta yang jarang sekali dibagikan oleh pejabat-pejabat.

Kalau Indonesia itu adalah orang, sejak lama si Indonesia itu tidak dikasih lagi utang sama bank. Karena kalian ngutang ke bank, mereka akan hitung DSR alias debt service ratio, total cicilan pokok+bunga dibanding total pendapatan. 20% masih okelah dikasih pinjaman. 30%? Bank mulai mikir. 40%? Bank mulai berhitung serius sekali. 50%?

Dan situasi si Indonesia ini duh Rabbi, tambah kusut. Bukannya mulai menahan nafsu utang, eh tambah gila. Gali lubang tutup lubang. Mirip banget orang yang ngutang hanya utk gaya-gayaan. Bikin rumah baru (padahal rumah lama masih oke), menggelar acara makan2 (padahal selama ini juga bisa makan), nambah ART, sopir, ajudan, genduuut sekali staf rumahnya. Bahkan ada staf moles batu, staf ngelap pagar, nggak penting blas.

Nah, jika dunia baik2 saja, okelah, si Indonesia ini aman2 saja. Tapi saat dunia kacau? Perang meletus, harga minyak tembus 100 dollar, kurs dollar 17.000; Maka kebutuhan belanja si Indonesia naik pesat. Tambahkan, suku bunga juga naik, dus, bayar utang bertambah2.

Itu tuh logika sederhana sekali. Dan bukan buat nakut2in. Nasib deh, di keluarga kalian saja, logika begini dipakai saat mau ngutang, dll. Lebih2 negara besar. Kamu lihat itu lembaga2 internasional, mereka menurunkan outlook negara kita, pasar juga bereaksi. Itu tuh alarm, peringatan dini.

Tapi terserah kalian. Teruskan proyek makan2 kalian, bikin calon bangunan hantu, impor mobil dari India, terus tambah pejabat2, teruslah jalan2 ke LN tiap bulan.

Hanya soal waktu cicilan pokok + bunga tembus 50%. Dan terus naik. Tutup lagi dgn utang baru. Saat pendapatan habis hanya utk bayar utang, saat itulah orang2 ini kabur ke LN. Benar2 kabur. Dan rakyat Indonesia tetap bahagia.

Negara dgn penduduk paling bahagia. Selamat.

*Tere Liye

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar