NATO dipastikan tidak akan memberikan dukungan militer kepada Amerika Serikat dan Israel dalam operasi terhadap Iran. Hal ini disampaikan oleh mantan Asisten Sekretaris Jenderal NATO untuk Investasi Pertahanan, Wendy Gilmour, dalam wawancara dengan radio CBC Kanada.
Menurut Gilmour, kecil kemungkinan NATO sebagai organisasi akan mengirimkan kekuatan militer ke Timur Tengah, termasuk pengerahan kapal untuk mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
“Saya tidak melihat skenario di mana NATO sebagai institusi akan mengirim pasukan ke kawasan tersebut, baik berupa kapal maupun kekuatan lainnya,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa NATO merupakan aliansi pertahanan yang beroperasi berdasarkan prinsip kolektif, khususnya melalui Pasal 5, yang hanya berlaku jika salah satu negara anggota di kawasan Euro-Atlantik mengalami serangan.
Meski demikian, ada kemungkinan terbatas bagi negara anggota tertentu untuk meminta dukungan tambahan. Salah satunya adalah Turki, yang saat ini disebut menggunakan sistem pertahanan NATO untuk menghadapi ancaman rudal Iran.
Namun, Gilmour menekankan bahwa keterlibatan NATO secara langsung dalam mendukung operasi militer yang dipimpin Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sangat kecil kemungkinan terjadi.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump dilaporkan meminta negara-negara NATO untuk membantu menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Di sisi lain, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas menyatakan bahwa negara-negara Uni Eropa juga menolak mengirimkan kapal militer ke kawasan tersebut, termasuk yang saat ini berada di Laut Merah במסגרת misi militer Eropa.






