
Mengapa dalam keadaan sakit, wajah ancur, body ringkih, gesture tertatih, dia masih hobby tampil?
Di panggung, foto-foto bersama termul, menerima tamu, pergi ke mana-mana (kecuali ke pengadilan)?
Karena dia, menurut keyakinan saya, menjalankan strategi Playing Victim.
Merasa jadi korban karena terus “dianiaya” oleh RRT.
Dihina-hina dan direndah-rendahkan padahal sedang sakit.
Jadi, pada dasarnya, dia memaksakan diri tampil di panggung PSI bukan untuk mendukung partai huhu, tetapi menggunakan panggung itu untuk tampil sebagai “si sakit yang terus disakiti”.
Perhatikan kata-katanya yang diulang-ulang dengan suara parau:
“Saya masih sanggup”
“Saya masih sanggup”
“Saya masih sanggup”
Tanpa dia sadari, ada letupan bawah sadar yang tak mampu dia kontrol, ada cuatan batin yang tak mampu dia sadari, dan keduanya terekam oleh publik.
Sehingga, alih-alih bersimpati, publik justru banyak berkomentar sinis:
“dalam keadaan sakit pun ambisinya masih menggelora tanpa batas, sudah pernah jadi pengusaha, walikota, gubernur, presiden, anaknya wakil presiden, mantunya gubernur, anak bungsu ketua partai”
Yang luarbiasa menurut saya,
demi ambisi yang tak ada batas, bahkan sakitpun jadi komoditas.
Dunia baginya seakan tak pernah cukup, dan yang membatasi tampaknya hanya mati.
(@DokterTifa)







Komentar