BENCANA NASIONAL
✍🏻Ustadz Mohammad Fauzil Adhim
Ada monumen yang tidak begitu besar. Luas areanya lebih sempit dibandingkan satu kecamatan. Bahkan masih jauh lebih kecil dibandingkan satu desa. Puncaknya seperti api, terbuat dari emas murni sumbangan Teuku Markam, orang Aceh. Meskipun tidak seluas satu kabupaten, monument itu disebut Monumen Nasional. Nasional.
Museum Nasional hanya berdiri di satu provinsi. Itu pun hanya di satu wilayah kelurahan, yakni kelurahan Gambir, kecamatan Gambir, Jakarta Pusat. Isinya antara lain keramik, etnografi, geografi, dan sejarah. Cakupannya meliputi artefak, arca, prasasti, tekstil, miniatur rumah adat, hingga koleksi emas dari kerajaan-kerajaan nusantara. Tidak semuanya “berhubungan langsung” dengan Indonesia. Tetapi ditetapkan sebagai museum nasional.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, begitu nama lengkapnya, berdiri di kelurahan Gambir, kecamatan Gambir, Jakarta Pusat. Tetapi ia tidak pernah disebut sebagai perpustakaan kelurahan. Memiliki lebih dari 8 juta buku yang terhimpun dalam bangunan setinggi 126,3 meter, perpustakaan ini disebut Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Apa pelajarannya? Status nasional tidaknya sesuatu tidak ditentukan oleh luas area maupun wilayah, tidak pula oleh sebarannya, tetapi soal nilai penting serta tanggung-jawab. Jalan nasional di kabupaten daerah asal saya misalnya, lebih pendek dibandingkan total jalan provinsi dan jalan kabupaten. Apalagi ditambah jalan desa.
Maka kalau bencana yang sangat parah di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat dianggap tidak layak ditetapkan sebagai bencana nasional karena hanya terjadi di tiga provinsi, itu berarti ada yang bermasalah dalam penalaran dan pemahaman masalah. Jika masalahnya bukan di situ, saya khawatir ini menjadi do’a yang terlalu mengerikan jika terkabul.










Komentar