Misteri Formasi Reshuffle Kabinet

Oleh: Gede Pasek Suardika

Melakukan reshufle kabinet adalah hak prerogratif Presiden. Kapanpun dan siapapun bisa dilakukan oleh Presiden. Rakyat seperti kita kebanyakan hanya punya hak untuk menganalisa saja untuk bahan gosip di warung kopi saja.

Berikut ini beberapa bahan untuk gosip di warung kopi atas reshufle yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto pada tanggal 1 Oktober 2026. Silakan dijadikan menu analisis sekaligus menikmati kopi dengan pisang gorengnya.

Simbolik:

1. Memilih menggunakan tanggal 1 Oktober di hari Kesaktian Pancasila dan setelah melewati Pemberontakan G 30S PKI.

Adakah ini kebetulan atau simbol jika yang sakti itu Presiden. Dan sekaligus simbol pesan politik jangan coba-coba melakukan gerakan pemberontakan. Secara politik ini lumayan kuat sinyalnya jika menjawab statemen mislanya ketika Wapres Gibran meminta korban keracunan MBG untuk membawa bekal saja dari rumah alias ‘mencela’ program aduhai Prabowo yaitu MBG. Analisa lanjutannya silakan diolah.

2. Digantinya Kapolri Listyo Sigit Prabowo oleh Suyudi Ario Seto seakan selain mempreteli panglima perang Joko Widodo yang utama selama ini, juga membuka kedekatan dengan kubu PDIP.

Maklum mertua Suyudi Ario Seto adalah Nurfaizi yang pernah menjabat Kabareskrim MABES POLRI (Markas Besar Polisi Republik Indonesia) di era Presiden Megawati.

Posisi KSP yang diberikan ke Listyo Sigit lebih pada proses kalkulasi politik tahap awal untuk mengukur dampak politiknya. Sebab KSP sudah beberapa kali lebih mudah diganti karena tidak pegang pasukan. Dari Qodari ke Dudung Abdurahman lalu ke Listyo Sigit soft saja. Kalau Listyo Sigit masih sangat kuat sebagai Ketum Parcok bisa jadi tetap dipertahankan, tetapi jika tidak, maka bisa jadi pelan-pelan terus dikempeskan. Lainnya silakan diolah biar lebih seru.

3. Prabowo dengan tegas mengambil garis jika kekuasaan tertinggi ada padanya, bukan pada tuduhan sosok yang berdiri dalam bayangannya selama ini. Absolutisme Power mulai ditunjukkan dan Sharing Power dwitunggal Prabowo-Jokowi mulai meredup.

    Adu Taktik

    1. Formasi menambah jaringan militer ke kabinet semakin membuktikan format kekuasaan Prabowo benar-benar membangun duplikasi kekuasaan Orde Baru dengan ABG (ABRI, Birokrat, Golkar) menjadi (Angkatan, Birokrat, Gerindra). Tentu keberhasilan berkuasa 32 tahun adalah bukti formasi ini sangat kuat success story historisnya. Selain Dudung juga masuk Mohamad Saleh Mustafa yang berpangkat Letjen TNI, lalu dari polisi masuk Dedi Prasetyo.

    2. Tersingkirnya Purbaya dari Menkeu dan naiknya Suahasil Nazara dan kini dilengkapi Wakil Menteri Luki Alfirman yang diduga yang meloloskan anggaran pembelian motor listrik dan yang kini menjadi kasus korupsi tapi beritanya mengendap.

    3. Kini pemerintahan Prabowo sudah memiliki patih Parpol dalam posisi Menko yang formasi begitu kuat dari ketum Parpol pendukung. Ada Bahlil ketum Partai Golkar yang menjadi Menko bidang Hilirisasi dan Transisi Energi selain Menteri ESDM, selain sudah Zulhas Ketum PAN, Cak Imin Ketum PKB, AHY Ketum PD.

    4. Partai Golkar berganti formasi dimana Agus Gumiwang digantikan Sekjennya M Sarmudji sebagai Menteri Perindustrian seakan mengamankan ketum dan sekjen Partai Golkar dalam satu barisan pemerintahan. Ini tentu makin mengamankan dan menenangkan Prabowo.

    5. Yang terpenting adalah jajaran kepolisian yang berhasil berpindah kekuasaan. Tidak mudah melakukannya karena ikatan jasa politik yang begitu kuat atas keberhasilan Pilpres yang lalu. Namun bisa jadi duri dalam daging untuk pilpres 2029 nanti. Pelan tapi pasti kendali dikuasai Prabowo sepenuhnya. Tentu setelah dibersihkan dulu operator lapangan yang pegang teritorial kubu Listyo Sigit. Contohnya Kapolda yang lama menjabat pasti kekuatan tangan kanan kekuasaan lama. Sepertinya segera akan diamputasi. Segera menyusul Panglima TNI dan Jaksa Agung. Dalam politik saat ini Trisula TNI Polri dan Kejaksaan sangat manjur untuk melanggengkan kekuasaan. Sehingga diyakini ketiganya akan digarap maksimal menuju persiapan Pilpres 2029.

    6. Keluarnya Menko PMK Pratikno juga bagian dari makin berkurangnya pengaruh Jokowi di kabinet. Sebab Pratikno adalah mahapatih pemerintahan Jokowi bersama LBP. Hilangnya Pratikno tentu makin memperlebar jarak kerenggangan politik Jokowi dan Prabowo. Belum lagi dengan dibiarkannya Gibran bertarung sendiri hadapi masalahnya di MK dimana parpol Koalisi pura pura sibuk semua dan seakan ikut membiarkan api membesar. Mereka sepertinya berharap dapat bola muntah dari kemelut politik ini. Mereka gercep bela Prabowo tapi seakan cuek pada Wakil Presidennya.

    7. Orang -orang Jokowi yang punya barisan politik masih dipertahankan tetapi yang tidak pegang jabatan politik mulai digeser-geser menjauh dari istana.

    8. Yang aneh adalah pembersihan di Ombudsman, ketika posisi sedang seru melakukan pembongkaran praktik koruptif di Lapas Cibinong, justru terjadi perubahan formasi disana. Apakah ada korban yang dekat kekuasaan atau berpengaruh mengakibatkan Ombudsman juga diacak dan dikocok atau bagaimana belum diketahui.

    9. Dstnya silakan ditambahkan.

      Lalu bagaimana Power Game berikutnya? Nanti saja kita bahas untuk bahan gosip politik berikutnya.

      -FB-

      Tinggalkan Balasan

      Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

      1 komentar

      1. cepetan lu Woiiii Anonim Babi guRun alias Aris Wijayantolol alias ABAH DUKUN alias ISLAM ABANGAN alias KERE KESOT alias Roy Panci MUNAFIK islamophobia ODGJ akut MABUK ONANI, MABUK KEJAWEN, MABUK CABUL anggota gerombolan ANJING-ANJING KURAP PENJILAT TerMul dan TerWo BabRun JANCUK PKI siap-siap cari BERHALA SESEMBAHAN yg baru. Daripada lu yg pengangguran ini gak makan, hayooo…‼️

        bhuahahahaha…huahahahaha…ngoahahaha…JLEBBBB‼️🤣😜😂😝