Menteri Haji semestinya punya rasa malu dan muru’ah

Negara ini dirusak oleh mereka sendiri

Duh, Rabbi,

Saya baru tahu berita ini. Padahal sudah lama loh keputusan menteri ini. Lolos begitu saja dari pemberitaan.

Wahai Tuan Menteri, bahkan jika dua anakmu ini hebat banget, lulusan Al Azhar Mesir, kampus-kampus top dunia, kamu bisa loh mencegah dirimu untuk mengangkatnya jadi tenaga ahli. Bahkan jika dua anakmu ini mantan pemilik perusahaan raksasa triliunan, sangat kompeten, kamu tetap bisa menahan dirimu meloloskannya jadi tenaga ahli kementerian.

Urusan Haji ini duuh Rabbi sejak dulu sarangnya KKN. Menteri-menterinya masuk penjara gara-gara haji. Staf-stafnya, pegawai-pegawainya, bancakan pesta pora. Itu tuh fakta.

Dan sekarang, nggak kapok-kapok juga. Dibentuk kementerian baru, begini juga. Menterinya sibuk mengangkat anaknya jadi tenaga ahli, wakil menterinya sibuk ngoceh omon-omon kayak presiden. Seolah antrian turun, seolah bisa naik haji cepat. Negara ini dirusak oleh mereka sendiri.

Gimana kamu mau memikirkan solusi skema Ponzi di dana haji ini, bahkan urusan KKN saja kamu eror kuadrat begini. Ini tuh jelas sekali nepotisme. Mengangkat anak sendiri, tanpa jelas kualifikasi, seleksi, seolah-olah Kementerian Haji itu milik keluarga.

Coba buka deh, dua anakmu ini, apa sih kompetensi pendidikan dan pekerjaannya? Coba buka CV-nya. Seolah-olah diantara 280 juta penduduk Indonesia, hanya anakmu yang kompeten. Ayolah, punya rasa malu dikit.

Karena sungguh malu itu sebagian dari iman.

(Tere Liye)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 komentar