Ada satu cara melihat dunia yang jarang kita pakai: melihatnya dari sudut pandang setan.
Kata Gus Baha’, kalau setan itu benar-benar sukses, seharusnya hari ini tak ada lagi orang yang mengaji. Masjid kosong. Tak ada yang sujud. Tak ada yang puasa. Tak ada yang sedekah. Tapi kenyataannya? Justru sebaliknya. Majelis ilmu tumbuh. Anak-anak kecil hafal Qur’an. Orang-orang sibuk mencari waktu untuk tahajud di sela rutinitasnya.
Artinya apa? Proyek besar setan tidak pernah benar-benar tuntas.
Tidak ada yang lebih menyusahkan iblis selain melihat seorang Muslim bersujud. Bayangkan, makhluk yang dulu menolak sujud karena merasa lebih mulia, kini harus menyaksikan manusia—yang ia anggap lebih rendah—justru taat bersimpuh kepada Allah.
Setiap kali dahi menyentuh sajadah, itu bukan hanya ibadah. Itu semacam pengumuman kecil bahwa godaan tidak selalu menang. Bahwa masih ada hati yang memilih tunduk pada Tuhan, bukan pada bisikan.

Kita sering merasa dunia makin rusak. Media sosial penuh maksiat. Berita penuh keburukan. Seolah-olah setan sedang pesta kemenangan. Padahal di sudut lain, ada orang bangun sebelum subuh, ada yang diam-diam transfer sedekah, ada yang menahan lapar karena puasa sunnah, ada yang menundukkan kepala dalam sujud panjang sambil menangis.
Kekalahan iblis itu sunyi. Tidak diberitakan. Tidak viral. Tapi nyata.
Setan memang terus bekerja. Ia tak pernah pensiun. Tapi ia juga tidak pernah sepenuhnya berhasil. Setiap ada satu orang yang memilih taat, rencananya retak. Setiap ada satu sujud yang tulus, egonya kembali diingatkan: dulu ia menolak, kini manusia melakukannya dengan rela.
Maka mungkin yang perlu kita sadari, kita ini bukan sekadar pelaku ibadah. Kita juga, tanpa sadar, sedang menjadi sebab tangis iblis.
Sujud yang kita anggap biasa saja, mungkin adalah momen paling menyakitkan bagi makhluk yang dulu sombong itu.
Dan selama masih ada orang yang bersujud, proyek setan tak pernah benar-benar menang.
(Dwy Sadoellah)







Komentar