Media Rusia, Sputnik, menyoroti gelombang demonstrasi ricuh di Indonesia dan menduga ada pihak eksternal yang menjadi dalang di balik aksi tersebut. Analisis mereka menilai, protes yang memaksa Presiden Prabowo membatalkan kunjungan ke China dan melewatkan KTT SCO tidak sekadar murni gerakan rakyat, melainkan dipengaruhi faktor luar negeri.
Salah satu pihak yang disorot adalah miliarder Yahudi, George Soros. Melalui Open Society Foundations yang telah aktif sejak 1990-an dengan dana lebih dari 8 miliar dolar AS, Soros diduga ikut mendanai dan mengorganisir gerakan protes di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Selain Soros, keterlibatan National Endowment for Democracy (NED) juga dicurigai. Lembaga ini disebut telah lama menyalurkan dana ke sejumlah media di Indonesia, dengan tujuan menciptakan jejaring yang bisa memengaruhi stabilitas politik nasional.
Lebih jauh, analis Jeff J. Brown dari Seek Truth From Facts Foundation menyebut strategi ini mirip dengan “revolusi warna” yang pernah terjadi di Serbia. Ia menilai, negara-negara G7 menginginkan pemimpin pro-Barat seperti era Soeharto, sedangkan Presiden Prabowo justru memperkuat aliansi dengan China, Rusia, SCO, dan BRICS. Hal inilah yang diduga menjadi pemicu adanya upaya intervensi eksternal melalui gelombang demonstrasi di Indonesia.
Sumber : ig blocknews.id







Komentar