Ya, tapi itu di jepang, program Makan Bergizi Gratis (MBG) sering menjadi perbincangan hangat di Indonesia. Di satu sisi, tujuannya sangat mulia: memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang cukup demi mendukung tumbuh kembang dan konsentrasi belajar. Namun di sisi lain, pelaksanaannya masih menuai berbagai catatan, mulai dari distribusi hingga kasus dugaan keracunan makanan di beberapa daerah.
Menariknya, pengalaman berbeda justru datang dari Jepang. Pengusaha kuliner sekaligus owner Almaz Fried Chicken, Okta Wirawan, membagikan pengalamannya saat berkunjung ke sebuah sekolah di Jepang. Ia mendapati bahwa konsep makan bergizi gratis di sana sudah lama diterapkan dan berjalan dengan sangat baik.
Di Jepang, program makan siang sekolah dikenal sebagai kyūshoku dan dikelola langsung oleh pihak sekolah bekerja sama dengan pemerintah daerah. Makanan tidak dipasok dari dapur pusat yang jauh, melainkan dimasak langsung di dapur sekolah oleh koki khusus yang memang ditugaskan di sana. Sistem ini membuat makanan yang disajikan lebih segar, hangat, dan dinilai lebih terjamin kualitas gizinya.
Menurut Okta, model seperti ini juga berpotensi menekan biaya operasional. Dengan memasak langsung di sekolah, pemerintah tidak perlu mengeluarkan anggaran tambahan untuk penyewaan gedung dapur terpisah seperti SPPG maupun biaya distribusi jarak jauh. Selain itu, menu makanan bisa lebih fleksibel dan menyesuaikan kebutuhan gizi siswa di masing-masing wilayah.
Di Jepang sendiri, sistem pendidikan yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains, dan Teknologi atau Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains, dan Teknologi Jepang menempatkan makan siang sekolah sebagai bagian dari pendidikan karakter. Siswa bahkan dilibatkan dalam pembagian makanan dan belajar tentang pentingnya nutrisi serta kebersihan.
Berbeda dengan itu, program MBG di Indonesia yang digagas pemerintah di era Presiden Prabowo Subianto masih dalam tahap penguatan sistem. Di lapangan, tantangan terbesar adalah menjaga kualitas dan keamanan pangan secara merata di berbagai daerah yang memiliki kondisi geografis dan infrastruktur berbeda-beda.
“MBG berhasil nih, tapi…” mungkin kalimat yang tepat untuk menggambarkan situasi ini. Secara konsep, program ini sangat baik dan berpotensi besar meningkatkan kualitas generasi muda. Namun, keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari tersalurkannya makanan, melainkan juga dari keamanan, kualitas gizi, efisiensi anggaran, dan minimnya dampak negatif seperti keracunan.
Harapan Okta Wirawan tentu menjadi refleksi bersama. Jika Indonesia mampu mengadopsi praktik baik seperti di Jepang—memasak langsung di sekolah, pengawasan ketat, serta edukasi gizi kepada siswa—maka MBG bukan hanya sekadar program populis, tetapi benar-benar menjadi investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.






