Kontroversi Buku ‘Memburu Muhammad’

Oleh: Wildan Hasan

Buku Memburu Muhammad karya Feby Indirani menuai kontroversi. Pro dan kontra mengemuka. Saya tertarik mengetahui isi dari buku yang viral tersebut. Saya dapatkan bukunya dan saya khatamkan buku setebal 207 halaman ini dalam sehari.

Buku Memburu Muhammad merupakan kumpulan cerpen Feby. Terdiri dari 19 cerita pendek. Judul buku merupakan judul salah satu cerpen di dalamnya. Nadirsyah Hosen memberikan pengantar pada buku ini. Nadirsyah mengapresiasi imajinasi Feby dalam menulis cerita-ceritanya.

Buku ini sendiri tidak ditulis oleh seorang ahli Islam. Seperti dicantumkan dalam bukunya, Feby bisa dikategorikan sebagai penulis yang “kritis” kepada Islam. Sebelumnya ia menulis buku Bukan Perawan Maria dan sejumlah buku lainnya. Feby pernah menginisiasi, Relax, It’s just religion, suatu gerakan yang mengampanyekan kemerdekaan beragama dan berkeyakinan melalu sastra dan seni. Diketahui Feby juga menulis buku pembelaan terhadap Ahmadiyah. Feby dalam salah satu utasnya juga mendukung LGBT.

Buku Memburu Muhammad dibanding kritis terhadap Islam dan perilaku umat Islam, lebih nampak gugatan dan sentimennya. Ia gugat Tuhan, Nabi Muhammad, Syariat Jilbab, Malaikat, Pesantren, Kyai, dll. Feby di beberapa tempat bukunya menggambarkan aktivitas seks cukup vulgar. Seorang wakil pimpinan Pesantren ia kisahkan suka beronani.

Syariat Islam tentu sempurna. Pemeluknya tidak sempurna. Mesti ada oknum di tubuh umat Islam. Pun juga di umat pemeluk agama lain. Jika Feby mengkritik oknum, kita bisa diterima. Tapi jika oknum ia generalisir bahwa seperti itulah Islam atau umat Islam, sama sekali tidak dapat diterima.

Sikap tidak hormat Feby sebenarnya sudah nampak pada judul yang ia pilih, Memburu Muhammad. Dalam bukunya Muhammad yang ia maksud memang Nabi Muhammad. Menyebut Nabi Muhammad begitu saja apalagi dengan dihubungkan dengan kata memburu, alangkah tidak sopan.

Meski oleh Nadirsyah ditafsirkan sebagai gambaran bahwa saat ini betapa sulitnya menemukan orang bernama Muhammad yang perilakunya seperti Nabi Muhammad. Kritik yang bisa diterima jika itu yang dimaksud.

Buku karya Feby ini perlu dibaca dengan kepala dingin. Ada yang bisa diterima, ada pula yang patut ditolak. Alangkah pantas jika menulis hal terkait sesuatu, dibincangkan dulu dengan yang memiliki otoritas terkait hal tersebut. Apalagi penulis bukan yang ahli untuk bicara Islam.

Di sisi lain, Islam tidak menolak seni. Bahkan Islam melahirkan dan menyuburkan seni. Hanya saja seni dalam Islam terawat indah dalam norma moral dan etik sehingga lahir maslahat yang proporsional. Seni yang melanggar norma bukan lagi seni. Manusia dibatasi oleh norma, tanpa norma sulit kita jadi manusia normal. Jadi, jangan normalisasi yang sejatinya tidak normal.

Buku Feby ini bisa diterima atau ditolak setelah dilakukan dialog. Meski dengan membaca bukunya bisa ditebak arahnya, proses tabayyun bisa menyelesaikan konflik dengan lebih bijak bahkan semoga menghadirkan hidayah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

9 komentar

  1. orang orang begini andai khalifah umay islam masih bisa dipastikan akan dikirim ke alam barzah……Judulnya saja sdh penghinaan terhadap Nabi MUHAMMAD SAW…

  2. Kalau misalnya kalau ketemu aku dijalan, akan kutanya baik baik, apa maksudnya menulis buku kaya itu, kalau memang niatnya ingin menghina ISLAM dan menghina Nabi MUHAMMAD, hari itu menjadi hari yang tidak akan dilupakan penulisnya

  3. islam itu agama yg luar biasa tapi sayang kebesaran islam tertutup oleh prilaku umatnya sendiri & yg disayangkan lagi orang lain menganggap seperti itulah ajaran islam.
    pada hal arti dari prilaku & ajaran dua hal yg berbeda.

  4. Buku buku seperti ini bisa dipastikan akan selalu bermunculan, harus dibedakan antara kritis dengan sinis, melihat background dari penulis sepertinya kita sudah faham isi dari otak si penulis dan sudut pandangnya, golongan sesat yang merasa paling tercerahkan ini tidak akan pernah merasa tabu untuk menulis apapun itu dengan mengatas namakan seni dan kebebasan bependapat, mereka punya misi kita juga punya misi, hanya ada satu kata LAWAN!!!!

  5. bales aj dng tulisan, febry pemburu rupiah penjual agama. critakan seorang penulis yg ngaku ngaku islam, buat tameng kemunafikan yg ada di dalam jiwanya..

  6. Arswendo Atmowiloto buat angket kekaguman menempatkan posisi Nabi Muhammad SAW di urutan 3 di bawah namanya aja kantornya langsung digruduk dan dipenjara di rezim Suharto.