Benarkah Sadrach Nyantri?
(Menelusur Jejak Penginjil Jawa)
✍🏻Arif Wibowo
Kiai Sadrach (1835–1924) dalam sejarah kristenisasi tanah Jawa menempati posisi istimewa. Selain keberhasilannya mengkristenkan banyak orang Jawa juga karena latar belakang pendidikannya yang dikaitkan dengan pesantren.
Latar belakang kepesantrenan inilah yang membuat orang ketika membaca judul buku Guillot, Kiai Sadrach, Riwayat Kristenisasi di Jawa biasanya berkomentar, ternyata ada ya kiai pesantren yang murtad. Meski belakangan pandangan ini sudah mulai berubah bahwa kiai itu adalah gelar penghormatan tak mesti terkait pesantren.
Dari tiga buku tentang Sadrach yang saya punya, Kiai Sadrach, Riwayat Kristenisasi di Jawa karya Guillot, Komunitar Sadrach dan Akar Kontekstualnya, disertasi pendeta Soetarman Partonadi dan Kiai Sadrach, Gerakan Jemaat Kristen Merdeka karya Lidya Herwanto, justru riwayat kepesantrenan Sadrach adalah jejak paling kabur dalam riwayat hidupnya.
Dalam buku-buku tersebut Sadrach digambarkan sebagai anak muda yang tekun mempelajari Islam, seorang santri lelana yang berguru dari satu pesantren ke pesantren lainnya bahkan di Lidya Herwanto disebutkan bahwa Sadrach ini pernah nyantri di Pesantren Gontor. Padahal, ketika Sadrach hidup, pesantren Gontor belum berdiri (Ponpes Gontor berdiri pada 20 September 1926).
Catatan yang jelas tentang riwayat pendidikan Sadrach adalah bergurunya Radin (Sadrach muda) pada pak Kurmen alias Sis Kanoman yang dikenal sebagai guru ngelmu peguron. Ngelmu peguron adalah sebutan untuk ngelmu kanuragan jaya kawijayan yang pada tahun-tahun itu banyak digandrungi oleh anak-anak muda. Ngelmu paguron diyakini dapat memberikan daya linuwih kepada pengamalnya.
Usai menimba ngelmu paguron, Radin baru melanjutkan perjalanan ke Jombang yang di semua buku disebut untuk menimba ngelmu pesantren. Ironisnya, pada fase paling krusial sehingga Sadrach dianggap istimewa karena dia menjadi orang pesantren yang murtad ini tidak ada catatan apa pesantren Sadrach dan siapa kiainya. Dua nama yang disebut yakni pesantren Tebuireng dan Gontor Ponorogo jelas anakronistik.
Petunjuk corak kepesantrenan Sadrach hanya ada di buku pendeta Partonadi, yakni ketika menjadi santri, Sadrach diwajibkan mengemis sebagai bagian dari kurikulum pendidikan al-Qur’an dan pesantren yang ia ikuti. Kewajiban mengemis dari rumah ke rumah pada hari Kamis itu ditujukan untuk pengggalangan guna keberlangsungan pesantren.
Petunjuk lain di buku tersebut adalah pesantren tempat Radin belajar tidak untuk pembentukan intelektual akan tetapi lebih pada pembentukan spiritualitas, dimana santri melakukan pekerjaan di sawah, beternak, memasak termasuk bekerja paruh waktu pada tetangga yang ada di sekitar pondok .
Selain itu, kalau dilihat dari buku-buku peninggalan Sadrach di gereja Karangjoso, dari ratusan buku peninggalan Sadrach, hanya terdapat satu buku bercorak Islam, sebuah buku berformat kecil, setebal 200 halaman yang ditulis dengan menggunakan bahasa Arab dan Jawa Pegon.
Karena anak keturunan Sadrach semua telah memeluk Kristen maka oleh Guillot buku tersebut dianggap milik Sadrach karena sebagai deklarasi bahwa pada masa mudanya Sadrach yang waktu itu masih bernama Radin sudah pernah menjadi santri, walaupun tidak ada bukti yang nyata bahwa catatan di buku tersebut dibuat oleh Sadrach.
Tiga hal yang menjadi ciri kepesantrenan Sadrach ini tentu menarik sebagai bahan penelusuran lebih jauh. Sebab bila nanti dikaitkan dengan murtadnya Sadrach setelah bertemu kembali dengan Sis Kanoman yang telah lebih dulu murtad, juga sisi klenik dimana Sadrach mengaku sebagai titisan Yesus dan juga hobinya menjual keris berdaya gaib, maka yang paling mungkin adalah Sadrach itu murid peguron tingkat lanjut macam padepokan Gus Syamsuddin yang pernah heboh beberapa waktu lalu, bukan pesantren yang mengajarkan ilmu-ilmu keislaman.
Jadi benarkah Sadrach pernah menjadi Santri ? Jawaban paling tepat adalah : Ora Cetho (gak jelas).
***

Kiai Sadrach, seorang penginjil pribumi Jawa yang menggabungkan unsur budaya Jawa dengan ajaran Kristen. Kiai Sadrach mengabdikan sisa hidupnya di Purworejo hingga meninggal di sana pada usia sekitar 89-90 tahun. Ia dikenal sebagai tokoh penyebar ajaran Kristen di tanah Jawa dengan cara yang unik dan berbeda, yaitu dengan memasukkan elemen budaya Jawa ke dalam praktik keagamaannya.
Kiai Sadrach terinspirasi oleh ajaran Kristen dan tokoh seperti Kyai Tunggul Wulung, yang membawanya pada keyakinan baru dan mendorongnya untuk menyebarkan injil di berbagai wilayah Jawa Tengah, khususnya di daerah sekitar Purworejo, Kutoarjo, dan sekitarnya.
Metode penginjilannya mengkombinasikan budaya Jawa dan Kristen, misalnya gereja yang dibangun tidak memakai lambang salib, melainkan lambang cakra, dan tata letak gerejanya menyerupai masjid Jawa. Cara ini memudahkan masyarakat Jawa menerima ajaran Kristen tanpa harus melepaskan identitas budayanya.
Meski jemaat hasil penginjilannya saat ini sudah tidak utuh lagi, pengaruh Kiai Sadrach masih dikenang di daerah sekitar Purworejo, dimana makamnya berada di Dusun Karangjoso, Desa Langenrejo, Kecamatan Butuh, Kabupaten Purworejo dengan cungkup atap bertingkat khas Jawa. Nama umatnya sering disebut sebagai Jemaat Sadrach & dikenal sebagai Pasamuwan Mardiko, yang merupakan komunitas yang tumbuh di sekitar daerah penyebarannya.








Komentar