Kenapa Maryam disuruh menggoyang pohon korma?

Maryam sendirian.
Tidak ada bidan.
Tidak ada keluarga.
Hanya rasa sakit yang datang berombak, dan ketakutan yang menekan dada.
Maryam pasrah bahkan mengaduh mengharap mati saja.
Di saat tubuhnya hampir menyerah, Allah berbicara kepadanya, bukan dengan janji keajaiban instan, tetapi dengan perintah yang terasa ganjil:

وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا

“Goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya ia menjatuhkan kurma yang masak kepadamu.” (QS. Maryam [19]: 25)

Seorang perempuan yang sedang melahirkan, lemah dan kesakitan, diminta menggoyang pangkal pohon kurma. Mungkin kita tak sadar bahwa ini pohon besar yang tak mungkin tumbang oleh tenaga manusia, apalagi oleh perempuan yang hampir mati.

‏Padahal Allah Mahakuasa.
‏Kurma itu bisa saja jatuh tanpa digoyang.
‏Bisa saja hadir tanpa pohon.
‏Bisa saja datang tanpa usaha.

‏Namun Allah tidak memilih cara itu.

‏Maryam tetap menggoyang. Dia tahu Allah tidak akan meninggalkannya.
‏Geraknya kecil.
‏Tenaganya nyaris tak ada.
‏Secara fisik, goyangan itu tidak cukup untuk menjatuhkan apa pun.

‏Tetapi Allah tidak sedang menilai hasil.
‏Allah sedang mendidik hati.

‏Para mufassir menegaskan hal ini.
sebagai ta‘līm lil-asbāb, pendidikan agar manusia tidak meninggalkan ikhtiar, meski Allah Mahakuasa. Para ulama juga mencatat tawakkal tidak berarti meninggalkan usaha, bahkan di saat paling lemah.

Seolah Allah berbisik:
Lakukan bagianmu. Sekecil apa pun. Aku yang menyempurnakan.

Kurma yang turun pun bukan sembarang makanan.
رُطَبًا جَنِيًّا—kurma basah yang segar.
Menguatkan tubuh, membantu kontraksi, dan menenangkan luka persalinan, sebagaimana dibahas dalam literatur medis modern.

‏Kisah Maryam bukan hanya kisah melahirkan seorang nabi.
‏Ia adalah pelajaran sunyi bagi siapa pun yang lelah:

‏Jangan berhenti berusaha hanya karena merasa tak mampu.
‏Karena sering kali, pertolongan Allah turun tepat setelah usaha terakhir yang tampak paling lemah.
Jadi, goyanglah “pohon kurma” anda saat ini, dan semoga Allah mengabulkan semua ikhtiar kita, sekecil dan selemah apapun.

Tabik,

(Nadirsyah Hosen)

Komentar