KAROMAH
✍🏻KH. Muhammad Faiz SM, Lc., M.A.
Cara berpikir religius yang terlalu visual. Yang terlalu percaya bahwa wali harus bercahaya. Bahwa orang saleh harus viral. Bahwa yang dekat Allah pasti hidupnya “naik kelas”.
Padahal pesan utamanya justru brutal dalam kesunyiannya: istiqamah itu sendiri adalah puncak karomah. Bukan terbang ke Mekah. Bukan menyembuhkan orang. Bukan membaca isi hati jamaah.
Tapi bangun subuh, azan, shalat, pulang, hidup biasa —diulang 40 tahun tanpa berhenti. Dan tidak bosan. Itu bukan kebiasaan. Itu keajaiban yang tidak kelihatan.
Kisah muazin 40 tahun itu sangat kejam secara spiritual. Karena ia membongkar satu kebohongan kolektif kita: kita menghormati agama bukan karena isinya, tapi karena bungkus sosialnya.
Muazin itu setiap hari mengucapkan:
Hayya ‘alash-shalāh hayya ‘alal-falāh
Ash-shalātu khairum minan-naum
Ia menyeru orang ke keselamatan. Ia membangunkan orang untuk shalat. Ia menjaga denyut masjid tetap hidup. Selama 40 tahun. Tapi karena ia tidak terkenal, tidak berjabatan, tidak berpakaian “ustaz YouTube”, tidak punya karisma panggung, maka ia jadi tidak kelihatan. “Ah, cuma tukang azan saja.”
Kalimat itu sebenarnya adalah vonis atas cara kita menilai manusia. Lalu datang orang alim, tamu terhormat. Didudukkan di depan. Dikasih kue. Diprioritaskan. Padahal secara fungsi spiritual harian, muazin itulah yang setiap hari menjaga nyawa masjid.
Yang satu dipuja karena simbol. Yang satu diabaikan karena rutin. Di situ kita bisa menangkap makna kalimat ini: “Kalau bukan karena wāridātul ahwāl dari Allah, dia tidak akan bisa seperti itu.”
Orang bisa azan 40 tahun bukan karena kuat mental semata. Itu bukan stamina. Itu bukan disiplin kosong. Itu pertolongan batin dari Allah yang membuat seseorang betah dalam kebaikan. Dan justru itulah karomah yang asli.
Kalimat paling menghantam dari semua itu adalah ini: “Ada karomah yang lebih besar daripada menjaga salat lima waktu berjamaah selama 50 tahun?” Ini terdengar berlebihan. Tapi justru di situlah letak kebenarannya. Karena yang paling sulit dalam agama bukan memulai. Tapi bertahan.
Banyak orang bisa shalat rajin setahun. Banyak orang bisa wirid semangat tiga bulan. Banyak orang bisa hijrah total dua tahun.
Tapi tetap lurus 40–50 tahun
tanpa drama, tanpa mundur, tanpa merasa suci —itu level lain. Dan itu mustahil tanpa karomah batin.
Lalu Gus Baha’ — atau guru beliau —membalik definisi karomah secara radikal: Karomah bukan soal bisa menyembuhkan orang. Karomah bukan soal doa langsung tembus. Karomah adalah: kedamaian dan ketenteraman hati.
Ini definisi yang sangat tidak laku di pasar spiritual. Karena tidak bisa dipamerkan. Tidak bisa dijual. Tidak bisa diviralkan. Tapi justru itu tanda Allah sedang memuliakan seseorang.
Dan kalimat penutup itu seperti palu terakhir: “Karomah itu bukan tentang kemasyhuran. Karomah itu adalah kehormatan dari Allah. Kehormatan itu hanya Allah berikan kepada hati-hati yang terhormat.”
Artinya:
– Orang yang hidupnya biasa saja
– Tidak terkenal
– Tidak punya murid
– Tidak punya panggung
– Tidak punya cerita ajaib
tapi:
– shalatnya jalan
– akhlaknya stabil
– tidak iri
– tidak merasa lebih suci
– tidak pamer batin
bisa jadi jauh lebih “wali” daripada tokoh spiritual yang follower-nya ratusan ribu. Dan mungkin inilah inti dari semua itu, kita terlalu sibuk mencari karomah yang spektakuler
sampai lupa bahwa karomah yang paling langka adalah menjadi orang baik yang konsisten di dunia yang rusak.
Muazin yang azan 40 tahun itu mungkin tidak pernah menyembuhkan siapa pun. Tapi ia menjaga ribuan orang tetap ingat shalat.
Dan itu, dalam logika langit, jauh lebih dahsyat daripada terbang ke Mekah sekali lalu pulang jadi sombong.
Maka benar: jangan rendahkan orang saleh hanya karena hidupnya tampak biasa. Karena bisa jadi
justru di situlah Allah sedang menyimpan kehormatan-Nya.
(*)







Komentar