Oleh Ridwan Sank (Founder Niteni Serat Diri)
Senin, 28 September 2026. RI 1 berkunjung ke kediaman Ibu Bangsa di Jalan Teuku Umar, Jakarta, sekitar pukul 17.45 WIB. Tujuan kunjungan: takziah, menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Guruh Soekarnoputra. RI 1 didampingi oleh Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Ibu Bangsa didampingi oleh putrinya, Puan Maharani, dan Ketua DPP PDIP Said Abdullah.
Dalam keterangan resmi, Said Abdullah menyatakan bahwa pertemuan itu “sangat personal” dan “sama sekali tidak ada pembicaraan politik.” Puan Maharani menambahkan bahwa pertemuan itu “jauh di mata, dekat di hati.” Tapi rakyat tidak tahu apa yang terjadi di balik pertemuan ini
Selasa, 29 September 2026. Puan Maharani, usai Rapat Paripurna DPR, mengungkapkan bahwa dalam pertemuan itu “tentu saja bicara hal-hal terkait bangsa dan negara.” Ia menyebut pertemuan itu sebagai silaturahmi untuk merawat keakraban.
Rabu, 30 September 2026. Surat Presiden (Surpres) bernomor R57/Pres/09/2026 tertanggal 30 September 2026 dikirim ke DPR. Isinya: usulan pemberhentian Kapolri Jenderal LSP dan pengangkatan Komjen SAS sebagai Kapolri baru.
Kamis, 1 Oktober 2026. Pagi hari, Jenderal LSP masih mendampingi RI 1 dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming dalam peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Setelah prosesi upacara selesai, DPR RI mengumumkan pergantian Kapolri. Komisi III DPR langsung menggelar uji kelayakan terhadap Komjen SAS. Rapat Paripurna DPR menyetujui SAS sebagai Kapolri baru.
Sobat… lihat kronologinya. 28 September: RI 1 bertemu Ibu Bangsa. 30 September: Surpres pemberhentian Kapolri dikirim. 1 Oktober: DPR menyetujui pergantian Kapolri. Tiga hari. Hanya tiga hari.
PERTANYAAN YANG MENGGETARKAN, KEBETULAN ATAU SASMITA?
Dalam Ngelmu Titen, pola yang berulang adalah pesan. Dan dalam Niteni Serat Diri, ada yang disebut “Sasmita” tanda-tanda alam yang diberikan kepada mereka yang mau membaca.
Apakah ini kebetulan? Atau ini sasmita?
“IBU BANGSA, KAU YANG MULAI, KAU YANG MENGAKHIRI?”
— SEBUAH PEMBACAAN SERAT DIRI
Sobat… dalam artikel saya yang dipublikasikan pada 27 September 2026 , sehari setelah pemakaman Guruh, dan sehari sebelum RI 1 bertemu Ibu Bangsa , saya membaca satu pola yang menggetarkan. Pola itu berbicara tentang seseorang yang membuka pintu, lalu membiarkan pintu itu terbuka terlalu lama, sampai akhirnya dia sendiri yang harus menutupnya.
Dalam ilmu Niteni Serat Diri, ada konsep yang disebut “Serat Diri” lembaran halus yang merekam setiap getaran jiwa. Dan serat diri Ibu Bangsa… adalah serat yang telah mencatat perjalanan panjang sebuah bangsa.
Ibu Bangsa adalah Presiden Ke-5 RI. Ibu Bangsa adalah Ketua Umum PDI Perjuangan. Ibu Bangsa adalah penjaga api Soekarnoisme. Dan ketika Ibu Bangsa bertemu dengan RI 1 di kediaman yang sama tempat jenazah Guruh disemayamkan, ada getaran yang tidak bisa diabaikan.
Dalam Ilmu sepuh, ada ajaran yang disebut “Ilmu Aji Pangrasono” ilmu untuk membangkitkan keberanian. Tapi ada juga yang disebut “Ilmu Aji Lungguh” ilmu untuk duduk diam, menunggu momentum, dan membiarkan alam bekerja.
Apakah Ibu Bangsa sedang mempraktikkan Aji Lungguh? Ataukah ini sasmita bahwa sesuatu yang lebih besar sedang terjadi?
KEEMPAT: MENGAPA KAPOLRI DIGANTI
Sobat… dalam ilmu politik next level, ada konsep yang disebut “strategic realignment” penyesuaian ulang strategi kekuatan politik. Ketika dua kekuatan besar bertemu, efeknya tidak hanya pada hubungan bilateral. Efeknya adalah getaran yang merambat ke seluruh struktur kekuasaan.
Kapolri adalah salah satu posisi paling strategis dalam struktur kekuasaan Indonesia. Kapolri mengendalikan institusi dengan sumber daya manusia terbesar di Indonesia. Kapolri mengendalikan keamanan nasional. Kapolri mengendalikan jalur informasi yang sangat sensitif.
Ketika RI 1 mengirim Surpres pemberhentian Kapolri hanya dua hari setelah bertemu Ibu Bangsa, itu bukan kebetulan. Itu keputusan strategis.
Dalam ilmu komunikasi politik beyond the believe, ini disebut “timing the narrative” memilih momen yang tepat untuk mengirim pesan. Dan momen yang dipilih RI 1… adalah setelah pertemuan dengan Ibu Bangsa, dan pada hari Kesaktian Pancasila.
Dalam falaq numerik, 1 Oktober adalah tanggal “Siji” awal yang berdiri sendiri. Dan pada tanggal itu, RI 1 mengirim pesan: saya memulai babak baru.
-FB-








Mau istilahnya babak baru kek, yang jelas negeri ini sudah BABAK BELUR akibat ulah genk PDIP sebagai partai dengan kader terKORUP. Ini partai pilihan si Anonim Terwo alias Aris WijayanTOLOL ODGJ akut beserta gerombolan JANCUK PKI nya yang merusak negeri ini‼️
ilmu Sabdo Pralon