Jokowi-PSI-Gibran saat ini pasti cemas banget pasca sidang MK semalam

Jokowi-PSI-Gibran-para pemuja Jokowi saat ini pasti cemas banget pasca sidang MK semalam.

Kenapa?

1. Sejak awal mereka dah over confidence bahwa MK gak akan nerima gugatan.

    Faktanya? Malah diterima dengan digelarnya tahap pembuktian.

    2. Mereka dari awal over pede karna nyangka ini isu impeachment.

      Realitanya? Ini isu diskualifikasi.

      Secara tidak terduga, kubu pemohon menyodorkan contoh kasus di Pakistan di mana pernah Perdana Menterinya didiskualifikasi karena terbukti tidak jujur dalam memenuhi persyaratan pendaftaran saat pemilu.

      Kasus di Pakistan tsb, sang PM terpilih di 2013 tapi dinyatakan didiskualifikasi oleh Mahkamah Agung Pakistan pada 2017.

      Di Pakistan padahal juga ada norma tentang impeachment tapi MA Pakistan menggunakkan dalil diskualifikasi.

      Dengan “tekstur” kasus yang sama antara yang terjadi di Pakistan dan pada kasus Gibran, tentu pintu kecemasan telah terbuka lebar bagi kubu Jokowi-Gibran-PSI karena kini MK punya referensi kuat untuk mendiskualifikasi Gibran sebagai wapres.

      Karena bagaimanapun azas pemilu yang Jurdil (Jujur dan Adil) adalah dalil yang sangat substansial nan rasional yang bisa jadi pendiskualifikasian Gibran karena memang terlihat jelas upaya manipulasi pada mekanisme penyetaraan ijazah SMA Gibran sebagai syarat dasar administratif.

      So, di sini bisa dikatakan bahwa unsur dalil di persidangan telah terpenuhi alias secara teknis hakim-hakim MK telah memiliki amunisi dalil yang sangat kuat untuk mendiskualifikasi Gibran.

      Meski demikian masalah utamanya ternyata bukanlah di dalam persidangan, melainkan di luar persidangan.

      Kasus se-“spektakuler” ijazah Gibran itu butuh dukungan nonteknis di luar persidangan alias harus ada “konsensus” dukungan politik luar biasa agar hakim² MK pun bisa mantap mengayunkan palu putusannya.

      Di titik inilah pada akhirnya kita semua bisa melihat mana kekuatan politik yaang paling kuat antara Hambalang vs Solo.

      Kesimpulan simpelnya sangat mudah:

      Jika Gibran tetap jadi cawapres maka artinya kekuatan Hambalang masih di bawah kekuatan Solo. Vice Versa.

      Dan yang awam harus ketahui yakni sidang ijazah Gibran di MK ini adalah “grand final” upaya publik untuk menghukum Jokowi.

      Jika gagal pada “grand final” tsb maka isu ijazah palsu Jokowi pun bakal selesai. Roy Suryo bakal jeblos masuk bui.

      Vice versa, jika sukses pada “grand final” tsb maka gelombang hantaman pada Jokowi akan semakin keras, Roy Suryo akan lolos dari bui.

      Jika itu yang terjadi, maka kredibilitas keluarga Jokowi akan hancur lebur hanya dengan 1 jargon:

      “Ayah dan anak = penipu ijazah”

      Maka efek dominonya pun akan dirasakan PSI yang padahal baru aja jadi wadah politik Jokowi.

      Publik akan dengan ringan menjuluki Jokowi-Gibran-PSI sebagai trio ngibulers.

      Andai skenario se-“sempurna” itu ynag terjadi, dengan demikian kita harus ucapkan terimakasih kepada Prabowo.

      Lho kenapa?

      Ya karena untuk bisa tiba pada fase MK ini, “bara api”-nya sudah dimulai sejak isu ijazah diduga palsu Jokowi yg telah bertahan 2 tahun.

      Karena mustahil isu se-“receh” ijazah Jokowi bisa bertahan lebih 2 tahun tanpa ada ‘bekingan’ kekuasaan.

      Dan sekali lagi, jika “permainan” itu sukses artinya Prabowo lebih Jokowi dari Jokowi itu sendiri.

      Namun jika gagal, yah Jokowi memang sehebat itu. Simpel.

      Dan semua itu ditentukan pada “grand final” putusan MK ijazah Gibran.

      (✍️Bung Iyut @kafiradikalis)

      Tinggalkan Balasan

      Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

      2 komentar

      1. grand final fix tdk sesuai syarat itu bukan juga soal jokodog tp soal leģitimasi calon memenuhi atau tdk memenuhi aturan yg ditetapkan.
        Dan jika grand final membatalkan gugatan maka akan jadi sejarah nasional terhadap pelecehan dunia pendidikan maka ini tak terlupakan pada anak bangsa yg yg sedang menuntut ilmu bahwa prestasi tdk ada apa apanya disaat berhadapan dng tangan kekuasaan

      2. Bangkai Keluarga Bencana Oslo sebusuk itu dan baunya menyengat seantero negri kalau masih di atas Hambalang artinya bangsa ini hobinya pemakan bangkai.