Jokowi berpartai terdorong untuk melindungi dirinya pribadi

Jokowi berpartai politik di masa pensiun, sebenarnya terdorong untuk melindungi dirinya pribadi dari rong-rongan sentimen politik yang tidak kunjung selesai.

Karena dari semua Pensiunan Presiden, hanya jokowi lah yang TERLEMAH…

  1. Dia Sipil biasa, juga Bukan Orang Kaya
  2. Dia tidak berparTAI juga bukan anggota atau Kader parTAI manapun
  3. Alumni yang dia miliki juga bukan Alumni yang memiliki Massa Politik apalagi Militer, hanya sekolah biasa / umum

Sehingga jokowi merasa tidak aman, tidak memiliki benteng, saat para Sentimerers menggalang Opini Politik dan Kebencian kepada pribadi dirinya juga keluarganya

Tapi situasi ini, saya melihatnya sebagai “akhir perjalanan jokowi” dalam dunia politik, karena dia tidak lagi berada di panggung tertutup dan strategis, melainkan terbuka, karena dia mulai BAPER dalam menghadapi sentimen politik yang semakin jadi 🤣🤣🤣

Kerentanan struktural (structural vulnerability) seorang mantan penguasa tanpa home base

Selama dua periode, kekuatan politik Jokowi ditopang oleh kekuasaan pinjaman (borrowed power)—memakai mesin PDI-P dan koalisi besar tanpa pernah memegang kepemilikan saham institusional di dalamnya.

Begitu masa jabatan usai, perisai resmi kepresidenan tanggal dan “kontrak sewa” mesin politik tersebut otomatis habis.

Berbeda dengan
🔹️SBY yang membentengi dirinya lewat Partai Demokrat, juga alumni Militer.
🔹️Megawati dengan PDI-P, dengan Orang Tua nya SOEKARNO, atau
🔹️Prabowo dengan Gerindra dan alumni Militer.

Jokowi tidak lahir dari dinasti politik lama, tidak memimpin partai besar, dan tidak memiliki latar belakang korps militer.

Pilihan untuk secara terbuka turun gunung dan melangkah ke pucuk kepemimpinan PSI adalah manuver defensif (self-preservation), BUKAN ekspansi kekuasaan yang terencana dengan tenang.

Namun, upaya mendirikan benteng darurat ini justru memicu paradoks politik yang merugikan posisinya sendiri…

Menurunkan Derajat Politik:
Dari seorang abstract kingmaker yang dulunya mengendalikan catur di panggung tertutup, dia kini terpaksa TURUN KELAS menjadi frontline player di panggung terbuka.

Mengekspos Diri di Lapangan Terbuka:
Dengan menjadi pimpinan parTAI, dia menanggalkan jubah “mantan presiden/negarawan” dan merubuhkan jarak perlindungan.

Dia mendaftarkan dirinya secara sah sebagai target tembak harian yang bisa diserang langsung oleh lawan politik tanpa beban etika mantan kepala negara.

Jokowi Memvalidasi Paranoia Politik:
Sikap reaktif terhadap sentimen publik menelanjangi rasa tidak amannya ke hadapan lawan.

Dalam kalkulasi persaingan kekuasaan, musuh tidak akan berhenti saat melihat targetnya gusar, melainkan makin gencar menekan karena tahu PERISAINYA mulai RAPUH.

Langkah mengambil alih institusi parTAI KECIL demi perlindungan pribadi adalah BUKTI bahwa paska-kekuasaan ternyata membawa kecemasan yang jauh lebih besar daripada saat memegangnya.

Niat hati membangun benteng perlindungan, yang terjadi justru melompat keluar dari benteng untuk bertarung di arena terbuka TANPA BAJU ZIRAH.

😎

(Apul Marpaung)

-FB-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 komentar

  1. semua perlindungan itu tidak perlu klau dia amanah sewaktu jadi presiden. dan setelah pensiun fokus menghabiskan hari tua dan mempersiapkan bekal ke liang kubur.

  2. Klu dibilang alasannya hanya krn pensiunan terlemah semata jelas over analisis !.
    Alasan yg benar adalah krn dialah satu2nya mantan presiden (setelah reformasi) yg paling banyak melakukan kebijakan2 zalim scr telanjang kpd rakyat dan negaranya, thd lawan2 politiknya, bahkan termasuk pd para pejabat2nya yg ia sandera dgn berbagai jebakannya. Krn itulah dia paksa anaknya yg belum cukup umur & tidak pny kapabiltas untuk terus ada di puncak kekuasaan demi melindungi dirinya, yg makin hari makin terkuak apa yg dulu ditutupinya atau orang takut utk melawannya atau membongkarnya saat ia berkuasa.