“JANGAN NGATUR TUHAN”

✍️Fakhry Emil Habib

Dalam kajian akidah tadi malam, saya sampaikan bahwa salah satu sebab suburnya atheisme bukan hanya karena materialisme yang kemudian bertemu dengan antropomorfisme, tetapi juga karena kekecewaan terhadap Tuhan.

Beberapa hari lalu seorang kerabat bercerita tentang tetangganya yang kini tidak lagi percaya kepada Tuhan. Ketika ditanya alasannya, ternyata orang itu pernah difitnah. Ia kemudian berdoa agar orang yang memfitnahnya mendapatkan kesulitan hidup.

Tetapi orang yang memfitnahnya tetap sehat. Rezekinya tetap lancar. Hidupnya baik-baik saja.

Lalu ia mengambil kesimpulan:

“Kalau Tuhan memang ada, mengapa orang itu tidak juga susah?”

Ini mengingatkan saya kepada sosok ayah Pi dalam Life of Pi: sikap anti-Tuhan yang muncul karena Tuhan tidak memperturutkan apa yang ia inginkan.

Padahal Tuhan bukan budak, kitalah budak.

Allah adalah Tuhan. Kita adalah makhluk.

Allah tidak mempunyai kewajiban untuk mengikuti skenario yang kita susun. Kita berdoa, tetapi Allah tidak menjadi wajib mengabulkan doa sesuai bentuk, waktu, dan cara yang kita tentukan.

Jangankan Tuhan.

Bawahan saja tidak bisa seenaknya mengatur atasannya.

Kitalah yang seharusnya tunduk pada titah Tuhan.

Makanya konyol ketika ada orang yang merasa bisa membuktikan tidak adanya Tuhan dengan memberi tantangan:

“Wahai Tuhan, kalau Engkau memang ada, turunkanlah hujan sekarang juga!”

Memangnya siapa kamu sehingga merasa berhak mengatur Tuhan?

Tidakkah kamu sadar bahwa kamu sendiri diciptakan dari ketiadaan?

Tidakkah kamu sadar bahwa jantung yang berdetak di dalam tubuhmu itu bukan kamu yang mengontrol?

Kamu bahkan tidak mampu menjamin satu detik kehidupanmu berikutnya.

Tetapi mengapa kemudian kamu merasa Tuhan harus tunduk kepada keinginanmu?

Karena itu, bagi siapa saja yang masih merasa bahwa Tuhan harus patuh kepada segala pintanya, saya kira tulisan di belakang sebuah mobil yang saya temui dalam perjalanan pulang dari Padang tadi pagi sangat tepat:

“JANGAN NGATUR TUHAN.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar

  1. jangan ngatur Tuhan, tapi ngemis²lah ke Tuhan. memang beda tipis tapi banyak yg belum paham ini. Posisi kita itu hamba, harus ngemis. dikasih ya syukur, gak dikabul pun tetep bagus karena segala yg dikasih pasti paling baik tuk kita.

  2. Tuhan tahu kebutuhan kita tanpa di sebut karena Dia Maha Tahu….Tuhan memberi tanpa di doa karena Dia Maha Pemurah…

    Doa hakikatnya ibadah mau diberi atau tidak…doa hakikatnya adab dan etika seorang hamba pada Tuhannya….

    Org yg tidak meminta pada Tuhannya dianggap sombong meski dia diberi….

    Oleh itu terus berdoa meski diberi atau tidak…karena pahala doa tetap menunggu….