James Hetfield memang brengsek

✍️Sean Prophet

Omong-omong, sikap pengecut yang disengaja dan aktif bukanlah hal baru bagi James Hetfield (vokalis Metallica). Itu memang gayanya. Dia sudah menerapkan pola “tidak mau berpolitik” sejak tahun 2017 di Rose Bowl. Saya menikmati konser itu; Metallica memang menyuguhkan pertunjukan yang luar biasa.

Akan tetapi…

Dalam konsernya baru-baru ini di Sphere, dia juga melontarkan pernyataan, “Metallica tidak ada di sini—seperti beberapa penghibur lainnya—untuk memengaruhi kalian dengan omong kosong mereka, oke?”

Tidak ingin bersikap “politis” dalam musik? Bisa dimaklumi. Hiburan adalah transaksi komersial, dan terkadang orang memang ingin sejenak melupakan segala kerumitan dunia.

Namun, secara aktif menggembar-gemborkan bahwa dirinya “tidak berpolitik” adalah perkara lain. Tindakan ini memiliki beberapa dampak:

– Hal ini menyindir para penghibur lain yang memilih untuk membela keadilan.

– Hal ini memberikan “izin” kepada penonton untuk bersikap acuh tak acuh terhadap berbagai peristiwa mengerikan yang terjadi, selama hal tersebut tidak berdampak langsung pada diri mereka.

– Hal ini merupakan bentuk pengabaian tanggung jawab kepemimpinan. Menjadi bintang besar pada dasarnya menciptakan fenomena yang mirip dengan kultus. Para pemimpin “kultus” di dunia hiburan yang menyia-nyiakan ketenaran mereka dengan menolak untuk mengambil sikap moral, justru memberikan dampak negatif bagi jutaan orang.

Tidak ada yang bisa menyangkal bahwa dunia akan menjadi tempat yang lebih baik jika para bintang secara serempak berani melawan ketidakadilan. Perhatian dari sosok-sosok ternama semacam itu dapat membawa perubahan nyata—tidak hanya dalam ranah budaya, tetapi juga dalam hasil pemilihan umum.

Ada pepatah lama yang mengatakan, “Anda mungkin tidak tertarik pada politik, tetapi politik tertarik pada Anda.” Hal ini berlaku bagi siapa saja, namun bintang-bintang kaya sering kali terlindungi dari berbagai dampak kebijakan politik. Fenomena ini sejalan dengan pola pikir egois yang bisa disebut sebagai paham “yang penting saya sudah aman” (I’ve got mine-ism).

Abraham Lincoln pernah berkata—atau setidaknya kurang lebih seperti itu—bahwa mereka yang memunggungi api pada akhirnya harus menanggung rasa sakit akibat luka bakar yang mereka dapatkan sendiri. Maksudnya, mereka yang memilih untuk tidak menggunakan hak pilih harus siap menanggung konsekuensi dari pilihan untuk tidak memilih tersebut.

Dalam lagu Freewill milik band Rush, Neil Peart mengungkapkan, “Jika Anda memilih untuk tidak memutuskan, sebenarnya Anda tetap telah membuat sebuah pilihan.”

Terkadang, sikap apatis memang bisa menjadi pilihan yang “aman”, karena sebagai seorang penghibur, seseorang tentu tidak ingin membuat separuh penontonnya merasa tersinggung atau menjauh. Namun, Hetfield punya tiga pilihan:

-Mengambil sikap demi kebaikan.
-Mengambil sikap menentang kebaikan.
-Tidak mengatakan apa pun.

Dia memilih opsi yang paling buruk. Dengan melibatkan diri dalam kontroversi tersebut di pihak yang salah, dia tetap membuat marah separuh penonton yang benar-benar memiliki etika. Seandainya dia menyampaikan pernyataan yang positif, mungkin dia akan kehilangan sepertiga penggemarnya yang berpaham “MAGA” (pendukung fanatik Trump), atau berapa pun jumlah pastinya.

Tapi, tahukah Anda bagaimana James Hetfield bisa menghindari semua masalah ini? Dengan cara tutup mulut saja. Dia tidak perlu bicara sepatah kata pun, tetapi dia memilih untuk bicara—sekaligus menunjukkan bahwa dia berada di kubu “apatis yang aktif”.

Sebab, kelompok yang mengaku “benci politik” biasanya adalah mereka yang justru mendukung ketidakadilan, hanya saja mereka tidak suka jika keyakinan buruk mereka harus dihadapkan ke ruang publik.

Masalah serupa juga meledak—dengan cara yang cukup dramatis—pada Ed Sheeran. Upayanya untuk menghindari politik justru membuatnya rugi dua kali lipat. Setelah Macklemore dicoret dari rangkaian turnya akibat pernyataan pro-Palestina, Sheeran kehilangan penampil pembuka lainnya serta band pengiringnya. Kemudian, karena tekanan, dia akhirnya mengutuk kehancuran di Gaza dan kematian anak-anak di sana secara terbuka—sesuatu yang seharusnya dia lakukan sejak awal. Bodoh sekali.

Begitu pula dengan Hetfield. Bedanya, hampir tidak mungkin Hetfield akan mengambil sikap, baik sekarang maupun di masa depan. Dibutuhkan keberanian untuk menyatakan sikap yang positif, bahkan bagi seseorang yang memang bermoral baik. James Hetfield bukan orang seperti itu. Dia telah membuktikannya berulang kali.

Ada banyak sekali isu yang bisa ia angkat dengan memanfaatkan platform yang dimilikinya, yang justru akan membuatnya dihormati publik. Namun, dia malah memilih untuk menyerang para seniman yang berani bersuara. Dari situlah kita tahu bahwa dia memang brengsek (piece of shit).

Roger Waters benar.

–FB–

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 komentar

  1. lebih brensek lagi penguasa negeri muslim yg diam atas penderitaan gaza,.

    kita tidak bisa mengharapkan dukungan orang2 kafir, umat islam harus mandiri dengan kekuatan sendiri. harus bisa berdiri dengan kaki sendiri