Mental Minta-minta
Ini konsepnya bagaimana ya? Kemarin itu pemerintah mengeluarkan apa yang namanya “Patriot Bonds.” Itu yang keluarin Danantara. Para konglomerat dan bank-bank besar pada beli. Atau, dipaksa beli.
Patriot Bonds itu yield-nya hanya 2% per tahun. Sementara SBN (Surat Berharga Negara) itu yield atau bunganya 5,6% per tahun. Ini adalah surat hutang negara kepada mereka yang beli. Jadi, kalau kamu punya 1 milyar, kamu belikan SBN, per tahun kamu diberi bunga 5,6% alias 56 juta! Per bulan, kamu dapat sekitar 4,6 juta. Tidak kena pajak!
Nah, Patriot Bonds itu diedarkan terbatas. Hanya kepada konglomerat dan bank-bank besar. Mereka beli. Ya harus belilah. Saya mendengar kabar bahwa para konglomerat ini malah seneng.
Mending beli Patriot Bonds, uang kembali plus bunga 2%. Daripada harus bayar di bawah meja, uang hilang dan tidak dapat bunga. Itu yang saya dengar.
Nah, di negeri ini, yang namanya berusaha atau berbisnis itu sama sekali tidak lewat pakem kapitalisme. Kalau dalam pakem kapitalisme, ada aturan yang jelas. Hukumnya keras. Contract is sacrosanct, kata para kapitalis. Artinya, kontrak itu suci.
Kamu bayar pajak 7% ya itulah yang kamu bayar. 7%. Tidak lebih tidak kurang. Kalau mau lebih, aturannya harus diubah dan kamu bisa putuskan mau invest atau tidak.
Di negeri ini, kamu bayar pajak 5%. Tapi kemudian ada politisi minta ‘sumbangan.’ Ada ormas minta THR. Ada aparat minta uang keamanan. Bahkan ketika sudah diamankan aparat, ada preman atau ormas yang minta uang jatah.
Itu semua sesungguhnya adalah pajak. Belum lagi kalau mau urus sesuatu. Segala urusan harus lancar dengan pelumas. Mau masukin barang harus cincai dengan bea cukai, misalnya. Kadang, yang harusnya masuk ke negara masuknya ke kantong pejabat. Banyak sekali “salah kantong” di negeri ini.
Belum lagi, kalau kamu jadi pengusaha, punya pabrik dengan banyak buruh, citranya jelek sekali. Pengusaha berdiri di antara banyak duri: negara dengan aturan-aturannya yang harus dipenuhi, birokrasi dengan wewenangnya yang gampang jadi sewenang-wenang, aparat dengan jerat-jeratnya, dan lain sebagainya.
Kadang untuk mengatasi tingginya pajak, hal pertama yang dilakukan pengusaha adalah menekan upah buruh. Sehingga di mata buruh, pengusaha adalah lintah penghisap darah.
Dan, sekarang ketika ekonomi lesu, presiden minta pengusaha buka lapangan kerja. Presiden yang juga punya perusahan ini — entah pabrik-pabriknya masih jalan nggak ya? — pasti tahu bahwa tidak mungkin terima karyawan kalau cash-flow perusahan mandeg.
Mengapa dia omongkan? Ya, untuk konsumsi kalian semua. Supaya kalian tahu bahwa dia kerja membuka 19 juta lapangan kerja. MBG sudah menyerap 1 juta lapangan kerja. Nanti kalau udah jalan penuh akan ada 5-6 juta lagi.
Beneran? Ya nggak tahulah. Tapi dari semua indikator, kelihatannya semuanya melemah. Itulah sebabnya, dia “minta” pengusaha membuka lapangan kerja. Minta!
Dan rejim ini boros sekali. Boros! Gampang sekali keluarkan uang. Begitu MUI mendukung Board of Peace-nya Trump, langsung dia bikin janji bangun gedung 40 lantai di Thamrin. Duitnya siapa?
Jangan bicara cash flow atau balance sheet. Itu tidak ada dalam kamusnya. Neraca keuangan tidak imbang? Minta kepada pengusaha.
Itu mental apa? … Ya Anda sudah tahu sendiri jawabannya.
(Made Supriatma)







Komentar