✍🏻Ismail Amin (WNI di Iran)
Gubernur Sumatera Barat, Buya Mahyeldi disela istirahat habis salat dhuhur beliau mengontak saya via WA (sebelumnya memang sudah ada pembicaraan melalui Aspri beliau yang meminta kesediaan buat ditelpon dan ngobrol dan saya iyakan). Saya awalnya mengira bentuk obrolannya akan diatur semi formal atau formal, via zoom, ditentukan kapannya, plus saya mempersiapkan diri dulu. Eh langsung di video call. Saya sempat bilang, biar berganti kemeja batik dulu, atau minimal cuci muka dulu, sebab di Iran masih pagi, tapi dibilang tidak usah langsung ngobrol saja. Saya tiba-tiba berasa seperti Jenderal Ahmad Yani yang diminta mendadak menghadap presiden. Jadi tanpa mengurangi rasa hormat saya benar-benar minta maaf mengenaikan pakaian rumah mengobrol dengan beliau. Meski silaturahmi virtual, beliau tetap adalah tamu, yang harusnya disambut lebih baik.
“Gak usah pak Ismail. Santai saja. Saya mau ngobrol ringan saja dengan pak Ismail.” Ujarnya bijak. Beliau pun menyampaikan tujuannya menelpon.
Beliau mengatakan, sejauh ini begitu mengikuti medsos saya terkait dengan perkembangan Iran. Beliau sangat takjub melihat Iran yg sudah lama diembargo namun negaranya masih tetap bertahan. Dengan begitu beliau ingin mengetahui lebih detail terkait bagaimana negara Iran mengatur keuangannya dan bagaimana kehidupan pejabat-pejabat iran menjalani amanahnya. Bagaimana sistem pendidikan di Iran. Dan banyak hal lain. Dan pembicaraan sekrang ini hanya pengantar untuk nanti dibuat obrolan lebih serius dan lebih mendalam. Saya pun menjelaskan singkat apa yang beliau minta. Bla…bla..
Terus terang, saya salut dan mengapresiasi tinggi itikad beliau mau mengambil yang positif dari Iran terutama manajerial pemerintahannya. Kita memang tidak boleh pesimis dengan masa depan Indonesia, dengan masih adanya pemimpin yang mau terus belajar dari mana saja dan semoga pemimpin dan pejabat seperti beliau diperbanyak.
Sehat selalu Buya 🙏🙏
(Ismail Amin)









