GIBRAN DILARANG KE SIDANG, KARENA NASI GORENG SUDAH MATANG

Oleh Ridwan Sank (Founder Niteni Serat Diri)

Dalam Jangka Jayabaya, ada pesan: “Sing salah bakal seleh” siapa pun yang bersalah, akhirnya akan menyerah, jatuh, dan meletakkan kekuasaannya.

Sobat… mari kita bicara tentang nasi goreng.

Pada Senin 28 September 2026, Prabowo Subianto berkunjung ke kediaman Megawati Soekarnoputri di Jalan Teuku Umar, Jakarta. Tujuan resmi: takziah atas wafatnya Guruh Soekarnoputra. Tapi ada satu detail yang menggetarkan, nasi goreng belum keluar. “Yang dibahas kemarin itu nasi goreng yang belum keluar karena belum jam makan malam,” kata Sufmi Dasco Ahmad.

Beberapa hari kemudian, nasi goreng itu sudah matang. Pertemuan lanjutan dijadwalkan pada 17 Oktober 2026 , tepat di hari ulang tahun Prabowo yang ke-75. “Mudah-mudahan pertemuan lanjutan itu bisa di tanggal 17 Oktober ketika Bapak Presiden kita ulang tahun,” kata Said Abdullah (politisi PDIP).
Dan menu utamanya: nasi goreng buatan Megawati.

Dalam Ngelmu Kasampurnan, ini disebut “Sasmita Pangan” tanda yang tersembunyi dalam hidangan. Nasi goreng bukan sekadar makanan. Ia adalah simbol diplomasi. Megawati pernah menyebut Prabowo “kangen nasi goreng buatannya”. Dan nasi goreng yang sudah matang… adalah kesepakatan yang sudah final.

Sobat… perhatikan polanya. Nasi goreng belum keluar saat sidang MK baru dimulai. Nasi goreng sudah matang saat sidang MK memasuki babak akhir. Ini disebut “Rangkaian Sasmita” rangkaian tanda yang membentuk satu pesan utuh. Dan pesan itu berbunyi, ada sesuatu yang sedang dimasak. Bukan hanya nasi goreng.

KENAPA GIBRAN TIDAK DATANG — MENJAGA “WAJAH” JOKOWI

Sobat… Denny Indrayana sudah bersurat ke MK tertanggal 28 September 2026, memohon agar Gibran dihadirkan. Alasan Denny: “Yang paham tentu tidak lain dan tidak bukan adalah Gibran sendiri yang paling paham.”

Tapi MK menolak. Dan dalam sidang yang sama, MK justru memanggil atase pendidikan dari Singapura dan Australia, dua negara yang terkait dengan riwayat pendidikan Gibran.

Mengapa? ini disebut “strategic absence” ketidakhadiran yang dirancang untuk menghindari konfrontasi. Tapi ada alasan yang lebih dalam, ini disebut “Tutup Wajah” menutup wajah untuk melindungi yang di belakangnya.

Jika Gibran hadir, dan jika ia tidak bisa menunjukkan ijazah SMA, maka yang runtuh bukan hanya dirinya. Tapi juga Jokowi. Ayahnya. Sosok yang membuka pintu untuknya. Sosok yang membangun dinasti.

Sobat… Gibran tidak datang ke sidang. Tapi nasi goreng sudah matang. Dan dalam Ngelmu Titen, ketika seseorang tidak datang, sementara yang lain sudah memasak, itu tanda bahwa ada sesuatu yang sedang disiapkan:

Puan atau AHY (pengganti Gibran)?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

11 komentar

  1. InsyaAllah nasgornya mak banteng enak sehingga bisa menambah energi bagi wowo untuk melibas yang yang perlu dilibas. mosok jenderal ga berani ???

  2. Jokowi dilawan, dia lbh baik jd bulan2an polemik ijazah palsu drpd hadir di sidang krn kalo hadir maka wibawa dan reputasinya lgs nyungsep, bahkan bukan tdk mungkin seluruh rakyat akan menjulukinya sbg penghianat bangsa. Pun dg ijazah sma gibeng, smp kiamat kurang 2 hari jg gibeng tdk bakalan datang ke pengadilan atau menunjukkan ijazahnya. Sekali berani datang dia bawa leher utk digorok Denny dkk …

  3. perkiraan gibran diganti sama puan, alasan prabowo pilih puan karena paktor megawati yeng tentunya partai besar pdip, dengan masuknya pdip di pemerintahan, prabowo lebih nambah kekuatanan atas kebijakan kebijakan kedepan

  4. coba bayangin gibran benar-benar diundang mk, ia diberi kesempatan ngomong, tapi tidak boleh memakai earpiece alat bantu dengar, kemungkinan akan terjadi tontonan genre komedi skala nasional karena melihat bocil plonga-plongo yg dikonfrontasi dengan pertanyaan super jelas oleh panelis serta para penuntut dan ia akan menjawab dengan jawaban antah berantah.

    dari yg semula cuman jualan martabak, kini martabaknya jatuh beneran, dan semua yg dulu dekat akan pura-pura nggak kenal sama si bocil.

  5. yang jelas 2 ketum partai besar ini ada tanda setuju buat bunuh psi dengan menaikkan ambang batas jadi 5 sampai 7 sebelum mereka dinasti solo berulah