Negara-negara tetangga Indonesia, khususnya Malaysia dan Singapura, menawarkan bantuan untuk memadamkan api akibat kebakaran hutan dan lahan. Kedua negara tersebut terkena efek langsung dari kebakaran hutan di Indonesia.
Namun tawaran tersebut ditampik oleh pihak Indonesia. Menko Polkam Dudung Abdurachman mengatakan bahwa bantuan dari luar tidak diperlukan. Kita masih sanggup mengatasinya sendiri. Kecuali bahwa dalam kenyataannya hutan-hutan dan lahan yang terbakar itu memang padam karena tidak ada lagi yang bisa dibakar. Kebakaran meluas kemana-mana.
Hari ini, Menteri Komunikasi Malaysia, Datuk Seri Fahmi Fadzil mengatakan bahwa tawaran bantuan tersebut masih berlaku. Singapura juga sudah menawarkan kembali bantuan tersebut. Namun Indonesia tidak pernah menyatakan kehendak menerima bantuan-bantuan tersebut.
Hal yang kemudian terjadi adalah pidato Presiden Prabowo. Dia mengatakan bahwa ada negara-negara yang mengejek Indonesia. Sindiran-sindiran pun beterbangan. Tidak itu saja, sindiran sudah berubah menjadi ancaman.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, kemarin menyatakan bahwa Indonesia akan menghentikan penjualan gas ke Singapura saat kontrak habis pada 2028 nanti. Seperti yang diketahui, 60 persen kebutuhan gas Singapura dipenuhi oleh Indonesia.
Sementara itu, dari luar pemerintahan, tuduhan-tuduhan liar tentang usaha negara tetangga untuk melemahkan ekonomi Indonesia pun bermunculan.
Mantan Menteri Perdagangan, Muhamad Luthfi dengan segera menjadi sensasi media sosial, karena tuduhannya bahwa downgrade MSCI yang merontokkan bursa saham Indonesia terjadi akibat pengaruh konglomerasi Singapura terutama GCI dan Temasek.
Luthfi, yang dipecat Jokowi sebagai Menteri Perdagangan karena kesalahan tata kelola CPO sawit yang mengakibatkan kelangkaan minyak goreng didalam negeri, tidak memiliki bukti yang kuat yang mendasari tuduhannya itu. Namun, ditengah ekonomi yang sedang beranjak menuju krisis ini, orang butuh jawaban atas keresahan-keresahannya.
Orang seperti Luthfi menawarkan jawaban instan. Tujuan Luthfi barangkali adalah publik domestik. Jika ia viral, Prabowo akan menoleh dan bukan tidak mungkin akan membawanya ke Hambalang.
Memang ada yang berbeda antara Bahlil dan Luthfi. Bahlil punya kekuasaan, sementara Luthfi sedang mencari kekuasaan. Namun keduanya memiliki intensi yang kurang lebih sama. Luthfi tidak punya bukti untuk menunjukkan tuduhannya itu, Bahlil juga hanya bisa sebatas mengancam.
Argumen Bahlil adalah karena Indonesia sekarang ini, meniru Prabowo, sedang berada dalam kondisi ‘survival mode.’ Kita sendiri perlu gas itu untuk hilirisasi dan industrialisasi.
Bahlil agak jeli membuat argumen ini. Dia tidak mengatakan bahwa gas itu nanti akan dipakai untuk konsumsi dalam negeri. Mengapa? Karena Indonesia sangat butuh devisa asing. Selain itu, kita belum punya jaringan gas ke industri dan ke setiap rumah tangga.
Gas yang dihasilkan oleh Indonesia sangat tinggi kadar metana-nya. Ia sangat sulit dicarikan, tidak seperti petroleum gas. Ekspor ke Singapura dilakukan lewat pipa-pipa dan dipakai untuk membangkitkan listrik. Karena itu harganya relatif lebih murah bagi Singapura — yang sudah lama mempersiapkan infrastrukturnya termasuk pipa-pipa dari Sumatra dan Natuna.
Sikap yang ditunjukkan oleh Indonesia jelas tidak bisa diterima dengan baik oleh negeri-negeri tetangga. Mereka berusaha menggunakan bahasa diplomatik yang sehalus mungkin untuk tidak membuat Indonesia merasa tersinggung. Namun, justru itulah yang ditunjukkan Indonesia. Seakan-akan Indonesia adalah ‘the big brother’ di kawasan, yang menuntut hormat dan disegani.
Namun sayangnya hormat dan keseganan itu datangnya bukan dari gengsi dan arogansi. Ia datang dari kemauan untuk bekerjasama dan mencari solusi bersama. Pidato-pidato Prabowo, yang selalu mendudukkan Indonesia sebagai korban — ditipu, dirampok, dicuri semua sumber dayanya — tidak akan membuahkan apapun kecuali perasaan tidak aman dari negara-negara lain dan para pelaku usaha.
Tanggapan Prabowo bahwa ancaman downgrade dari MSCI juga tidak jauh dari respon arogan. MSCI hanyalah lembaga pemeringkat. Ia memberikan penilaian terhadap kondisi pasar saham Indonesia. Bisnis utama dari MSCI adalah kepercayaan (trust) para investor. Itulah sebabnya ia berusaha seobyektif mungkin — memperlihatkan resiko-resiko kepada para investor.
Dan para investor pun percaya pada MSCI. Ini artinya, kalau MSCI tidak obyektif, pasti para investor tidak akan memperhatikan rating dia keluarkan. Namun, para elit kita, tidak peduli itu. Mereka mungkin sangat paham. Masak orang sekaliber Luthfi tidak paham bagaimana MSCI bekerja? Itulah sebabnya, saya melihat ada motif lain dari Luthfi dengan melontarkan tuduhan-tuduhan tidak berdasar itu.
Dalam hal ini, saya lebih sepakat dengan Dino Patti Djalal, yang mengatakan bahwa tuduhan Singapura ingin menjatuhkan ekonomi Indonesia itu tidak masuk akal. Singapura justru akan lebih diuntungkan jika Indonesia makmur, bukan Indonesia yang miskin.
Namun mengapa para Prabowo, para pendukung, serta orang-orang yang ingin berpengaruh kepada pemerintahannya tetap memproyeksi gengsi dan arogansi kepada negara-negara tetangga terdekatnya ini?
Saya kira jawabannya adalah pada inkompetensinya untuk menyelesaikan banyak masalah. Ketidakmampuan membuat orang merasa insecure atau rendah diri — perasaan tidak berdaya. Ia membutuhkan sesuatu yang bisa disalahkan; yang dijadikan sasaran dan pelampiasan atas kegagalan-kegagalannya.
Yang pertama kali muncul dalam perasaan insecure atau rendah diri adalah gengsi. Orang yang gengsian itu adalah orang yang rendah diri. Dari gengsi ini kemudian muncul “arrogance trap” atau jebakan arogansi. Tawaran bantuan dianggap penghinaan. Simpati dan belas kasihan, sekali pun tulus, dianggap sebagai pelecehan.
Ia menjadi jebakan karena dari sikap arogansi ini maka inkompetensinya akan bertambah. Kebakaran hutan bertambah hebat karena awalnya gengsi, kemudian menjadi arogansi, kemudian bencana ini semakin menjadi-jadi. Karena bencana semakin meluas, inkompentensinya semakin tampak, insecure-nya semakin bertambah, dan seterusnya.
Itulah yang terjadi sekarang ini. Tambah lama, rejim ini semakin tampak inkompeten — kebakaran meluas, BBM semakin langka, keracunan MBG tetap terjadi, korban bencana tetap tidak tertangani, korupsi semakin merajalela, nepotisme semakin berbiak, dan seterusnya. Namun semakin dia tampak inkompeten, semakin tinggi gengsinya — yang sebenarnya memperlihatkan insecuritasnya.
Persoalannya adalah orang yang insecure, tidak kompeten, gengsian, dan arogan ini tidak berhenti disitu saja. Tambahkan faktor kekuasaan kepada dirinya. Maka lengkaplah dia akan menjadi seorang sociopath.
Apakah ada jalan keluar dari situasi ini? Jelas ada. Jalan keluarnya adalah kekuasaan ini harus diganti. Regime change adalah jawabannya.
(Made Supriatma)








SEPAKAT…. kekuasaan ini harus diganti. gak ada solusi lain dan gak perlu kompromi 💪💪👊👊👊🔥♨️♨️🇮🇩🇮🇩
🌿 INSPIRASI ISLAMI HARIAN
Praktis • Edukatif • Inspiratif
🤝 Ahlan wa sahlan di channel resmi islami.top!
Ruang berbagi wawasan keislaman yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
📌 Mari bergabung di kanal islami.top/wa dan sebarkan kebaikan.
✨ Temukan ilmu, inspirasi, dan berbagai manfaat untuk kehidupan sehari-hari.
🎯 Fokus Kajian Kami:
🎥 Video pendek (Faedah harian)
📖 Wawasan keislaman
💡 Tips kesehatan
🔬 Sains: Keajaiban Ciptaan Allah
🤲 Kisah mualaf yang menginspirasi
✨ Quote motivasi islami
📝 Artikel keislaman
📰 Kabar dunia Islam
InsyaAllah, konten disajikan secara rutin dengan mengutamakan manfaat dan sumber yang terpercaya.
📲 Tafadhdholu follow channel kami:
http://islami.top/wa
بارك الله فيكم
ALHAMDULILLAH SUDAH FOLLOW…
jazakallah khoiron katsiro ya akhi 🙏