Prancis Rusuh
✍️Ruby Kay
Gak perlu heran dengan demo anarkis yang terjadi di Prancis. Karena warga negaranya memang sangat kritis.
Jadi pejabat di negara maju seperti Prancis dijamin gak bakal bisa tidur nyenyak. Ada atap sekolah bocor dikit aja, maka pemerintahnya bisa dituding gak becus bekerja.
Di Prancis, Immanuel Macron gak disembah. Gak ada yang memuja Macron setinggi langit, gak ada yang menangisi Macron saat ia diserang oleh lawan politiknya dalam debat calon presiden.
Maka ketika jadi presiden, Macron gak bisa asal-asalan membuat kebijakan. Jika inflasi dan harga BBM naik tanpa diimbangi dengan kenaikan upah para pekerja, maka Paris akan dilanda mogok massal dan demonstrasi besar-besaran.
Budaya kritis orang Prancis terhadap para pejabatnya emang uda jadi karakter sejak dua abad yang lalu. Para pemikir terlahir disini, sebut saja Montesquieu, Jean-Jacques Rousseau, Voltaire, Rene Descartes. Teori-teori sosial dan politik yang digagas oleh ketiga orang itu pada akhirnya diterapkan oleh hampir seluruh negara didunia yang menerapkan sistem demokrasi, termasuk Indonesia.
Siapa yang menggagas trias politica? John Locke, namun konsepnya kala itu masih mentah. Monstequieu lah yang menyempurnakan gagasan itu menjadi sebuah buku berjudul L’Esprit des Lois (The Spirit of the Laws), terbit pada tahun 1748.
Ketika raja, ratu dan kalangan bangsawan sibuk berpesta di istana Versailles, buku-buku yang ditulis oleh para cendekiawan menyebar dan dibaca oleh banyak orang Prancis. Maka terjadilah revolusi tahun 1789-1799 yang pada akhirnya berhasil menumbangkan rezim monarki. Raja dan ratunya dipancung oleh rakyatnya sendiri di alun-alun utama kota Paris.
Begitulah. Jiwa kritis orang Prancis lahir dari membaca buku. Mereka tak pernah menganggap pejabat sebagai orang yang mesti dispesialkan. Sikap ini sesuai dengan semboyan rakyat Perancis ketika berhasil menumbangkan raja Louis XVI, Liberté, égalité, fraternité yang berarti “kebebasan, kesetaraan, persaudaraan”.
Bagaimana dengan Indonesia? You knowlah. Jangankan tangan, jempol kaki presiden pun kalo bisa dicium dan dijilat. Wkwkwkwkw…..








francis dari sistem kerajaan ganti ke sekulerisme tidak merubah apapun, yang berkuasa tetap kaum borjuis.
karena solusi untuk mewujudkan keadilan hanya syariat islam dalam bingkai khilafah
Di Indonesia Jokodok plonga plongo raja Ngibul Mulyono dan si Mbah GendruWo Wowo Antek asing Gemoy omon omon malah dijadikan BERHALA SESEMBAHANnya si ANONim (Akal Nol, Otak miNim) MUNAFIK ANJING KURAP PENJILAT beserta gerombolannya.
Begitu dikritik ttg kebijakannya yang TIDAK BIJAK, banyak berbuat zalim malah mereka bela sampai titik darah penghabisan. Mereka bangga dengan semboyan andalannya “BERANI MATI TAKUT LAPAR‼️
ngoahahaha…😂😝🤣🤪
wah nampol terwo si af dran-drun ini 🤣🤣
di sini agak laen emang, presiden ultah lgsg diglorifikasi & diromantisasi habis-habisan. dikasih ucapan selamat ultah sang patriot. patriot macam apa yg ngga segera mencopot menhut sementara karhutla di mana-mana?
Disini sejarahnya banyak penghianat londo ireng rasis provokator antek zionis pembenci Islam pemecah belah tk adu domba jadi bego & lemah lah rakyat nya gampang diperdaya lewat bansos langsung kicep & mingkem.