Filipina, India Krisis Energi: Indonesia Aman?

Konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat–Israel dan Iran telah mengganggu pasokan energi global melalui Selat Hormuz, jalur vital bagi sekitar 20% minyak dunia. Dampaknya mulai terasa di Asia, dengan beberapa negara menghadapi tekanan krisis energi. Filipina dan India menjadi sorotan utama, sementara Indonesia dinilai relatif lebih aman meski tetap harus waspada.

Filipina menjadi negara pertama yang secara resmi mendeklarasikan darurat energi nasional pada 24 Maret 2026. Presiden Ferdinand Marcos Jr. menandatangani perintah eksekutif karena adanya “bahaya iminen” terhadap pasokan energi. Negara ini sangat bergantung pada impor minyak—sekitar 90–98% berasal dari kawasan Teluk—sehingga cadangan BBM hanya tersisa sekitar 45 hari.

Harga diesel dan bensin melonjak tajam, bahkan lebih dari dua kali lipat sejak akhir Februari. Sejumlah SPBU mulai mengalami kekurangan pasokan, memicu ancaman mogok transportasi massal. Pemerintah merespons dengan meningkatkan produksi listrik dari batu bara, mencari pasokan alternatif dari Rusia dan negara lain, serta membentuk komite khusus untuk pengadaan bahan bakar.

Sementara itu, India menghadapi krisis LPG (elpiji) yang cukup serius. Sebagai salah satu importir besar LPG, gangguan pasokan membuat warga di beberapa daerah harus antre panjang untuk mendapatkan tabung gas. Banyak restoran dan hotel terancam mengurangi operasional atau bahkan tutup sementara.

Di sisi lain, sebagian keluarga berpenghasilan rendah terpaksa kembali menggunakan kayu atau arang untuk memasak. Meski pemerintah menyatakan stok bensin dan diesel masih cukup, panic buying sempat terjadi di beberapa wilayah. India pun mendorong diversifikasi pasokan serta meningkatkan produksi batu bara guna memenuhi kebutuhan listrik, terutama menjelang musim panas.

Berbeda dengan kedua negara tersebut, Indonesia dinilai masih dalam kondisi relatif aman. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa Indonesia belum memasuki fase darurat energi karena pasokan fisik BBM dan LPG masih tersedia.

Stok Pertalite diperkirakan cukup untuk 24 hari, Pertamax 28 hari, sementara solar dan LPG berada di atas ambang batas aman menjelang Lebaran 2026. Pemerintah juga memastikan harga BBM subsidi tidak akan naik dalam waktu dekat, dengan APBN menyerap tekanan kenaikan harga global. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia turut menjamin ketersediaan energi nasional.

Meski demikian, langkah antisipasi tetap disiapkan. Pemerintah mempertimbangkan kebijakan work from home (WFH) bagi ASN serta program penghematan energi mulai April 2026. Ketahanan Indonesia dinilai lebih baik berkat produksi domestik dan diversifikasi sumber pasokan, meskipun tetap rentan jika konflik berlangsung lebih lama.

Secara keseluruhan, Filipina mengalami krisis paling akut, India menghadapi tekanan di sektor gas rumah tangga, sementara Indonesia masih berada dalam kondisi terkendali. Situasi ini menjadi pengingat pentingnya kedaulatan energi dan diversifikasi pasokan di tengah gejolak geopolitik global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar

    1. af = aris fuck KERE KESOT!
      Terimakasih mbah wowo yg sdh jadi jongos junjungan ku si Jokodok plonga plongo raja ngibul!
      bhuahahahaha…huahahahaha…!