Semua masa ada orangnya, semua orang ada masanya. Budiman Sudjatmiko adalah masa lalu, cara pandangnya menggunakan cara pandang kekuasaan persis ketika dulu Orde Baru melihatnya ketika masa mudanya menjadi aktivis dan Ketua PRD hanya direplikasi menjadi istilah lebih canggih dan instrumen yang lebih kekinian, tetapi kesimpulannya tetap bahwa unjuk rasa adalah ekspresi tetapi kerusuhan adalah hasil tunggangan pihak lain. Tonenya mau dibungkus dengan bahasa secanggih apapun adalah pembelaan terhadap kekuasaan, ya karena dia bagian dari penguasa sebagai Kepala Badan Pengentasan Kemiskinan, setingkat menteri yang menikmati semua fasilitas dari negara, bahkan ketika acara pun dia pakai emblem pejabatnya, mbok ya dilepas dulu mas. Iya deh anda pejabat š Mungkin dia lupa, tapi dari situ kita paham bagaimana orang memandang kekuasaan. Di sekitarmya saya kenal beberapa orang ya begitulahā¦.
Sementara head to head dia dengan Ferry Irwandi, seorang konten kreator salah satu pendiri Malaka Project, yang menjadi referensi literasi generasi kini untuk memahami teori dan fenomena sosial politik dengan bahasa dan pendekatan populer. Followernya jutaan (di IG 2,5 juta, di Youtube 1,89 juta), dia tidak perlu mendirikan PRD tetapi dia diikuti banyak anak muda, yang mungkin melihat Budiman seperti orang tua yang cerewet dengan membanggakan masa lalunya. Ferry mungkin dengerin Budiman ngoceh dengan gayanya bergumam, “Ini orang nggak sadar jaman udah berubah, gerakan sudah tidak lagi sama dengan dia, mungkin dia sedang ngigau terlalu lelap tidur enak di kursi kekuasaan”. š
Kasihan Budimanā¦yang memang pejuang di 98, tapi ya dah masa laluā¦apalagi yang tidak mengalami masa ituā¦
(āļøMarkijok)






Komentar