Fenomena vendor MBG yang pamer untung 6 juta/hari sambil joget heboh, lalu lapor polisi karena dikritik, dan sekarang malah di-mocking (diejek) massal (dengan video AI) ini kelihatan kayak sirkus sosiologis yang lucu menurutku 🤣.
Kalau kita tengok pakai teori “Mimicry” (peniruan) dari Homi Bhabha, apa yang dilakukan netizen ini adalah bentuk perlawanan kultural yang cukup oke dalam “menelanjangi” targetnya. Dalam konsep Bhabha, mimicry (peniruan) itu gak pernah sekadar copy-paste, seringkali akan berlanjut ke ejekan (mockery) sebagai kritik.
Netizen meniru gerakan joget si MBG (almost the same, but not quite) bukan untuk mengagumi, tapi untuk mereduksi otoritas dan arogansi si MBG menjadi sebuah lelucon murahan. Jogetan yg awalnya adalah spectacle keserakahan (pamer profit dari proyek negara), kini dibajak oleh publik menjadi simbol kebodohannya sendiri.
Fenomena ini makin absurd ketika respons si MBG yang menggunakan instrumen hukum (lapor polisi) untuk membungkam kritik. Di sinilah konsep “The Carnivalesque” bekerja dengan sempurna.
Ketika pihak yang berkuasa (atau yg simply merasa di atas angin) menggunakan “Repressive State Apparatus” seperti polisi dan ancaman UU ITE untuk menegakkan hierarki dan mendisiplinkan warganya, publik justru melawan dengan logika “Karnaval”. Netizen meruntuhkan ketegangan ancaman penjara itu dengan tawa publik yang anarkis, tarian yang mencolok, dan parodi massal. Hukum yang kaku dan formal langsung kehilangan taringnya ketika dihadapkan pada tawa massal yang merendahkan (mocking).
Akhirnya, tren tarian MBG membuktikan satu hal: mungkin kamu bisa menyewa pengacara dan pake polisi untuk membungkam argumen orang di internet, tapi kamu gak akan pernah bisa menang melawan masyarakat yang sudah memutuskan bahwa eksistensimu hanyalah sebuah meme komedi.
(@fillainart)






