Faktor utama kegagalan negosiasi di Pakistan ada dua, AS memaksakan dua hal:
- Uranium Iran yang sudah diperkaya harus di transfer keluar negeri. Dan Iran tidak punya hak memperkaya uranium di dalam negeri.
- Selat Hormuz harus dibuka kembali seperti semula tanpa tarif (biaya).
Kedua syarat utama ini langsung ditolak oleh Iran, disamping beberapa syarat yang lain, bahkan saat sesi akhir negosiasi, kedua syarat utama ini tetap ditolak oleh Iran.
Keberanian Iran menolak dua tuntutan utama AS dan Israel secara psikologi politik bisa dibaca bahwa, Iran yakin sejak awal, bahwa posisi mereka berangkat ke Pakistan berada pada posisi menang.
AS sebenarnya lebih butuh negosiasi ini ketimbang Iran, tapi AS terjebak pada posisi yang lebih mengutamakan agenda Israel daripada agenda AS sendiri. Maka negosiasi ini gagal.
Posisi Iran saat ini secara geopolitik sudah menang telak, dengan kondisi Selat Hormuz yang belum terbuka selama 41 hari, yang gagal dibuka oleh AS, baik lewat jalur militer atau jalur diplomasi.
Uranium Iran yang menjadi garis merah AS juga ditolak Iran, artinya, Iran saat ini tidak memberikan opsi apapun lagi kepada AS soal isu nuklir Iran.
Jika AS ingin bicara lagi dengan Iran, maka masih ada waktu AS mengajukan putaran kedua ke Iran via Pakistan atau via pihak ketiga lainnya, Jika tidak, maka pilihannya tidak ada lain: Resuming a War (melanjutkan perang), dimana Iran sangat siap untuk perang dalam jangka panjang. Iran nothing to lose.
Kondisi saat ini pasca kegagalan negosiasi ada dua, mau lanjut gencatan senjata yang disetujui awal selama dua pekan sambil AS mencari jalan diplomasi, atau langsung kembali ke Medan perang. Bola ada di tangan AS.
Disisi Iran, secara geopolitik dan kalkulasi perang, selama nuklir Iran masih aman dan Selat Hormuz yang masih tertutup, Iran ada dalam posisi “upper hand” (tangan di atas).
Kegagalan negosiasi AS kali ini secara otomatis adalah kemenangan strategis bagi Iran, dan pilihan perang langsung bisa pecah saat ini, jika Israel tiba-tiba mengambil posisi menyerang Iran terlebih dahulu ditengah gencatan senjata.
Sedangkan Iran bisa memaafkan waktu gencatan senjata ini untuk kepentingan konsili militer mereka secara lebih leluasa. Seperti mengkordinir kesiapan perang dan logistik dengan bantuan Rusia dan China.
Berperang secara besar-besaran lagi bagi AS sekarang jadi lebih tidak rasional setelah kegagalan di Pakistan. Tapi jika AS tetap memilih jalur itu, maka itu juga bukan masalah besar bagi Iran.
Kondisi Iran saat siap perang dan siap negosiasi, setelah negosiasi kali ini gagal, maka Iran sudah otomatis siap perang kembali.
Kelebihan yang dimiliki Iran saat ini, senjata Iran masih fit, balistik Iran masih aman, pemimpin Iran masih firm, dan dukungan rakyat dan militer yang masih sangat solid.
Disisi lain sebaliknya, jika AS dan Israel melanjutkan perang, kondisi di dalam negeri mereka bisa lebih parah.
Netanyahu saat ini sedang dibawah tekanan rakyat, tekanan kasus korupsi, tekanan Turki yang baru menjatuhkan hukuman 4500 tahun bagi Netanyahu atas genosida, tekanan eropa yang dipimpin Spanyol, dan tekanan pengadilan internasional ICC.
Sedangkan Trump saat ini sedang dibawah tekanan rakyat, tekanan impeachment kongres, tekanan global karena ekonomi dunia, tekanan Selat Hormuz, dan tekanan tidak solid nya kabinet nya dan chaos di dalam Pentagon.
Semua ada ditangan AS dan Israel, ingin melanjutkan perang dengan segala konsekuensinya, atau berhenti perang dengan mengakui semua hak-hak Iran dan tuntutan Iran untuk penghentian perang secara permanen.
(Tengku Zulkifli Usman)







Iran bukan arab sunni yang sudah tidak punya iizah. Ekonomi dunia sekarang ditangan Iran. Dengan dilanjutkan perang semua akan berdampak dan kesalahan akan ditimpakan ke amerika dan Israel.
Pada akhirnya Amerika akan menyalahkan Israel. Setelah sebelumnya Eropa dan bangsa lain melakukan itu….Ini yang ditunggu.
serahkan aja semua sm yg diatas…