Elon Musk Mengaku Tak Bahagia meski Jadi Orang Terkaya Sedunia

Elon Musk baru-baru ini menarik perhatian publik dengan pengakuan terbuka bahwa dirinya tidak merasa bahagia. Meskipun menyandang status sebagai orang terkaya di dunia dengan kekayaan sekitar US$ 852 miliar (sekitar Rp 14.387 triliun), Musk menyatakan bahwa harta sebanyak itu tidak menjamin ketenangan batin.

Pernyataan ini memicu diskusi luas mengenai ironi kekayaan ekstrem dan bagaimana kesuksesan finansial tidak selalu sejalan dengan kesehatan mental.

Berikut adalah beberapa poin utama terkait pernyataannya:

  • Cuitan di Platform X: Pada awal Februari 2026, Musk mengunggah pesan yang berbunyi, “Siapa pun yang mengatakan ‘uang tidak bisa membeli kebahagiaan’ benar-benar tahu apa yang mereka bicarakan,” lengkap dengan emoji wajah sedih.

  • Kesehatan Mental & Tekanan: Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, Musk juga mengakui adanya tekanan mental yang luar biasa. Ia pernah menyebutkan penggunaan ketamin (dengan resep dokter) untuk mengatasi kondisi psikologis negatif atau depresi. Ketamin adalah obat anestesi disosiatif yang bekerja cepat untuk memicu hilangnya kesadaran dan meredakan nyeri.
  • Kebutuhan akan Kasih Sayang: Musk pernah mengungkapkan secara emosional bahwa ia tidak bisa bahagia tanpa adanya pasangan atau kasih sayang dalam jangka panjang. Elon Musk telah mengalami beberapa kali perceraian yang terdokumentasi dalam kehidupan asmaranya yang rumit. Ia bercerai dari istri pertamanya, Justine Musk, pada tahun 2008. Selanjutnya, ia menikah dan bercerai dua kali dengan aktris Talulah Riley (bercerai pertama tahun 2012, rujuk, lalu bercerai lagi pada 2016). Total terdapat 3 perceraian resmi dari pernikahan sah.
  • Beban Kerja Ekstrem: Pengakuannya sering kali dikaitkan dengan jadwal kerja yang sangat padat (hingga 120 jam per minggu) dan kurang tidur, yang berdampak buruk pada kesejahteraan pribadinya.

Komentar