Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Mengundurkan Diri, ADA APA?

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Daryono mengundurkan diri dari jabatannya.

Hal tersebut dia sampaikan secara daring kepada rekan media pada Jumat (13/2/2026) kemarin.

Melalui pengumuman itu, Daryono menyampaikan bahwa dirinya mengundurkan diri sekaligus mengajukan pensiun dini dari BMKG.

“Saya ingin menyampaikan bahwa saya telah mengajukan pengunduran diri dari jabatan Direktur Gempa Bumi dan Tsunami, sekaligus mengajukan pensiun dini dari BMKG,” kata dia melalui keterangan resminya, Jumat (13/2/2026).

Tetap berkomitmen memberikan edukasi kebencanaan

Lebih jauh, Daryono memastikan dirinya tetap berkomitmen untuk memberikan edukasi bidang kebencanaan.

“Namun demikian, komitmen saya terhadap edukasi publik di bidang kegempaan dan kebencanaan tidak akan berhenti,” terangnya.

Dia sendiri telah lama berkecimpung dalam kajian gempa bumi dan tsunami, baik di dalam dan luar negeri.

Daryono telah banyak mempelajari konsep dan teori kegempaan, sumber gempa, analisis data, maupun sejarah gempa dan tsunami.

Menurutnya, dia memiliki tanggung jawab keilmuan (scientific responsibility), tanggung jawab edukasi (educational responsibility) dan tanggung jawab moral (moral responsibility) di negeri yang rawan bencana ini.

“Bagian favorit saya sebagai seorang seismolog adalah menjadi orang yang selalu ditanya teman dan keluarga tentang gempa bumi. Itu benar-benar yang terbaik,” beber Daryono.

Sebagai peneliti, doktor dalam bidang Ilmu Geografi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) ini juga aktif menulis artikel ilmiah. Hingga kini, sudah lebih dari 80 publikasi ilmiah yang telah ditulisnya, baik internasional maupun nasional.

Di luar itu, Daryono juga aktif di media sosial dengan puluhan ribu pengikut untuk memberikan informasi seputar kegempaan.

***

“Saya memahami keputusan seorang senior kegempaan melakukan ini. Walaupun beliau mundur karena alasan kesehatan.

Setahun terakhir saya juga merasakan lesu. Saya merasakan suport pemerintah sangat minim di bidang ini, sarana prasarana dlm pekerjaan juga sekedar saja dan apa adanya. Alat² bnyk rusak, hilang dan anggaran perawatan alat juga seupil. Belum lagi program aneh “gentengisasi” (genteng tanah) yg bener² bertolakbelakang dg upaya mitigasi kegempaan, fiuh..😮‍💨 Ini pendapat saya lho ya. Entah bagaimana perasaan beliau yg merasa tanggungjawab ada dipundaknya 😌,” komen Laila Nahwa Harun di fb.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. Korban2 MBG mulai muncul di permukaan, mulai dr pejabat2 yg masih waras, krn dg dukungan dana yg minim mereka kesulitan utk melaksanakan program2 yg sdh direncanakan, jgnkan program, dana utk operasional sj mungkin sdh ngap2an. Habis ini institusi dan lembaga2 kolaps … kita tunggu sj beritanya smp tahun depan … #edisi_salah_milih_pemimpin