Cara Manipulasi Survei

Survei Kepuasan Prabowo

Oleh: Markijok
(Sedang belajar Statistik Terapan di Pascasarjana UGM)

Setelah hampir satu setengah tahun release lembaga-lembaga survey kembali keluar. Kali ini dari indikator politiknya Burhanudin Muhtadi. Hasil kesimpulannya secara umum hampir tidak jauh dari survey Kompas 79,9%. Melebihi survey Jokowi dulu 2016 ketika hampir dua tahun berkuasa periode pertama hanya sekitar 65-67%. Prabowo luar biasa dengan angka kepuasan menyentuh hampir 80%.

Survey adalah perangkat penelitian kuantitatif yang menggunakan ilmu statistik dan matematika untuk menangkap fenomena atau realitas sosial.

Sebagai ilmu dalam tradisi eksak dia menggunakan logika positivis, angka atau hitungan itu pasti.

Tetapi ketika digunakan untuk menangkap realitas sosial yang subyektif ketika dimaknakan, apalagi berhubungan dengan kekuasaan, ilmu statistik dan matematika bisa dijadikan alat untuk mengukuhkan dan menebalkan kekuasaan caranya adalah dihegemoni dengan angka.

Tetapi apabila kita menggunakan pengetahuan kritis maka kita bisa membongkarnya, ada makna lain dibelakang angka-angka itu.

Tapi percayalah tak ada survey yang berkaitan dengan kekuasaan itu yang netral, semua berpihak dan cara melacaknya adalah darimana sumber dananya? Tidak harus langsung dari tangan kekuasaan, tetapi dari pendananya nanti kita bisa menghubungkan jaring kuasanya ada dimana?

Nah kembali ke survey Burhanudian Muhtadi dengan Indikator Politiknya,

Surveyor tidak ubahnya adalah akademisi yang bertirai kaidah ilmiah tetapi sebenarnya ya cari makan dengan uang kekuasaan atau ditukar jabatan misal seperti kasus M. Qodari, Denny JA yang dulu surveyor Indobarometer dan LSI, atau Hasan Nasby yang punya Cyrus, lembaga survey dan konsultan.

Saking berpihak dan melakukan operasi hegemoni angka, sampai-sampai harus mengorbankan periuknya untuk ditukar jabatan dan tidak lagi menjadi surveyor, karena karir surveyornya sudah habis, atau tamat ketika mengambil jabatan di kekuasaan.

Tidak dengan Burhanudin Muhtadi, dia masih Profesor dan mengajar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan masih tetap jadi surveyor. Walaupun ya tentu saja kalau dalam kacamata kritis, kita sudah bisa menerka Burhanudin adalah surveyor yang tetap sebenarnya berada pada barisan pendukung kekuasaan, termasuk juga Kompas.

Walaupun itu sangat halus indikatornya, tidak serta merta seperti para pemilik surveyor yang mengambil jabatan di kekuasaan.

Tentu mereka yang kritis bisa melihat hasil survey Burhanudin dengan Indikatornya ini bermakna selain menebalkan hegemoni angka dalam kuasa, tetapi dia mengirim pesan, bahwa rezim ini tidak baik-baik saja.

Di tengah masalah yang bertubi menerpa bangsa ini:

  • Dari Bencana Sumatera yang tak terurus dengan baik
  • Nilai tukar rupiah yang merosot
  • Indeks pasar saham yang diturunkan statusnya oleh Morgan Stanley Capital Internasional
  • karut marut MBG
  • rusaknya hukum dan aparatnya
  • hilangnya keseimbangan kelompok kritis terhadap pemerintah yang diwakili oleh ormas dan partai
  • yang terbaru adalah hilangnya akses jaminan kesehatan masyarakat rentan dan miskin akibat dicabut dari data terpadu sosial ekonomi dimana itu menyiratkan bahwa angka kemiskinan di Indonesia sesungguhnya naik dibuktikan dari mereka yang disubsidi pembayaran iuran jaminan sosial kesehatan.
  • Ada banyak hal lagi yang kita bisa bersepakat bahwa zaman ini tidak sedang baik-baik saja!

Pun sebenarnya persepsi rakyat yang tercermin dalam survey Burhanudin ini.

Saya sendiri tidak mendapatkan rilis lengkap survey ini. Tetapi membaca survey ini dari media.

Sebenarnya dari hasil survei ini, rezim Prabowo harus lebih hati-hati, rakyat sedang menumpahkan kegelisahan dan frustasinya pada rezim ini.

Darimana kita bisa melihat? mari cermati detil hasil surveinya (akan terlihat cara halus manipulasi persepsi -red):

Kalau kita melihat sekilas, betul kesimpulannya bahwa angka kepuasan itu 79,9%.

Darimana angka 79,9% didapat? Dari gabungan cukup puas 66,9% ditambah sangat puas 13%.

Artinya mereka yang sangat mendukung rezim ini hanya 13%.

Siapa mereka? tentu yang bisa mendapat hidup dari putaran anggaran program pemerintah, dimana yang paling besar ada di program MBG.

Sementara yang tidak mendukung atau tidak percaya pada rezim ini dan gambaran nyatanya lebih besar.

Jumlah yang tidak mendukung itu = kurang puas 17,1%, tidak puas sama sekali 2,2%, kalau dijumlah 19,1%.

Artinya yang sangat mendukung 13% dan yang tidak mendukung 19,1%.

Terus bagaimana dengan angka cukup puas yang besar 66,9%?

Dalam bahasa statistik, sebenarnya KALAU MAU DAPAT DATA YANG SESUNGGUHNYA kita tidak perlu melakukan “eufemisme” untuk memperhalus hasil sehingga tujuannya adalah tidak membuat sang pendana ataupun penguasa merasa senang, atau menghegemoni kekuasaan dengan angka.

Sebenarnya (kalau ingin dapat data ril) pertanyaannya bisa dibikin lebih simpel: Apakah anda puas dengan kebijakan dan program pemerintah saat ini? Jawabannya: puas atau tidak puas.

Tetapi oleh surveyor kita diberi pilihan dengan pertanyaan yang kemudian jawabannya a) sangat puas, b) cukup puas, c) kurang puas, d) sangat tidak puas, dan terakhir e) tidak tahu.

Sebenarnya sangat puas diturunkan lagi dengan puas dan kurang puas serta sangat tidak puas.

Munculnya kata “cukup puas” ini adalah strategi untuk menghaluskan supaya mereka yang “sedikit kurang puas” dan “sedikit merasa puas” tergabung dalam satu cluster. Maka perlu kata “cukup puas” untuk mengumpulkan perasaan rakyat dalam survey ini.

Sebenarnya kita sudah bisa menjawab makna kata cukup. Dulu kalau kita sekolah di sekolah dasar dan diberi raport, kata cukup dalam nilai diwakili oleh angka 6! Nah darimana angka 6 ini? angka 6 diperoleh dari pembulatan 5,5 ke atas dan 6,5 ke bawah. Maka pembulatan angka 6 diperoleh dari dua angka pembulatan 6,5 kebawah dan pembulatan 5,5 ke atas.

Jadi bagaimana memaknai cukup puas dalam survey itu?

Artinya Cukup Puas adalah, puasnya sedikit dan kurangpuasnya sedikit.

Terus bagaimana menjelaskannya?

Ya kita bagi saja separuhnya masuk dalam puas dan separuhnya masuk dalam tidak puas.

Jadi kalau 66,9% itu dibagi 2, hasilnya 33,45%, maka kesimpulannya:

  • Mereka yang puas terhadap rezim Prabowo 33,45%+13% = 46,45%
  • Sedangkan yang tidak puas 33,45%+19,1% = 52,55%

Maka kira-kira Burhanudin atau Indikator Politik akan kasih rekomendasi apa ke Pak Prabowo dan pemerintahnnya, lampu kuning alias hati-hati Pak Prabowo?

Caranya? Potong masa lalu dan bayang-bayangnya, juga dengarkan keluhan rakyat, jangan berjarak walaupun anda terlahir dari keluarga elit dan tetap sebagai elit.

(*)

Komentar