BUMERANG PERANG IRAN BAGI TRUMP

Ketegangan di Timur Tengah mendorong harga minyak naik. Dampaknya langsung terasa di Amerikaโ€”harga bensin naik, inflasi meningkat, dan daya beli masyarakat tertekan. Bagi pemilih (rakyat AS), ini lebih nyata daripada kemenangan militer yang jauh di luar negeri.

Di saat yang sama, perang tidak menghasilkan kemenangan cepat. Iran tetap bertahan, konflik berlarut, dan biaya terus membengkak. Sekutu pun ogah bantu. Mengapa? Bukan hanya dalam negeri AS yang menderita akibat BBM naik, semua sekutu AS seperti Eropa, Jepang juga menderita. Mereka memilih diplomasi daripada perang. Akibatnya, perang harus ditanggung sendiri oleh AS.

Di panggung geopolitik modern, perang tidak lagi sekadar soal menang atau kalah di medan tempur. Ia telah berubah menjadi permainan kompleks antara persepsi publik, stabilitas ekonomi, dan kepercayaan pasar. Dalam konteks ini, konflik antara Amerika Serikat dan Iran justru menghadirkan ironi yang tajam yaitu kekuatan militer yang dimaksudkan untuk memperkuat kepemimpinan politik, malah berbalik melemahkannya.

Bagi Donald Trump, perang ini awalnya adalah panggung. Sebuah demonstrasi kekuatan. Sebuah sinyal kepada dunia bahwa Amerika masih memegang kendali atas tatanan global. Namun seperti banyak perang dalam sejarah modern, realitas tidak tunduk pada narasi. Balasan Rudal Iran telah menghancurkan reputasi Trump sebagai pribadi dah AS sebagai negara.

(Erizeli Jely Bandaro)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar