Di tengah agresi militer AS-Israel yang terus berlanjut terhadap Republik Islam Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman kasar terhadap Iran. Melalui platform Truth Social pada Sabtu (4 April 2026), Trump memberikan ultimatum 48 jam terakhir kepada Iran: buka Selat Hormuz sepenuhnya tanpa ancaman, atau “all hell will reign down” (neraka akan turun) atas fasilitas pembangkit listrik Iran.
Ancaman ini merupakan pengulangan retorika intimidasi Trump yang sudah beberapa kali dilontarkan sejak Maret lalu. Sebelumnya, Trump pernah mengancam akan “obliterate” (menghancurkan) pembangkit listrik Iran mulai dari yang terbesar, namun beberapa kali menunda deadline dengan alasan “diskusi produktif” – yang langsung dibantah pihak Iran sebagai kebohongan untuk menutupi kegagalan dan tekanan ekonomi domestik AS.
Sementara itu, respons Iran tetap tegas dan tak bergeming: “Tak gentar!” Pejabat tinggi dan militer Iran menegaskan bahwa ancaman Trump justru mencerminkan keputusasaan Washington dan sekutunya di tengah perlawanan heroik bangsa Iran. Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa jika AS berani menyerang infrastruktur listrik Iran, Selat Hormuz akan ditutup sepenuhnya dan tidak akan dibuka kembali hingga pembangkit yang hancur dibangun ulang.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menekankan bahwa segala serangan terhadap fasilitas vital Iran akan membuat infrastruktur energi, desalinasi air, serta fasilitas ekonomi di kawasan Teluk — termasuk yang mendukung basis AS dan Israel — menjadi target sah yang bisa dihancurkan secara irreversibel (tidak bisa diperbaiki). Perdana Menteri Masoud Pezeshkian menambahkan, “Ancaman dan teror semacam ini hanya akan memperkuat persatuan rakyat Iran. Kami akan menghadapi ancaman gila ini di medan perang dengan tegas.”
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menjelaskan bahwa pembatasan di Selat Hormuz hanya ditujukan pada kapal-kapal dari negara agresor (AS dan Israel beserta sekutunya), sementara kapal netral tetap bisa melintas dengan koordinasi Iran. Iran juga siap membantu kapal-kapal sipil yang tidak terlibat dalam agresi.
Sikap Defensif dan Berdaulat
Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz adalah wilayah perairan strategis yang berada di bawah kedaulatan dan tanggung jawab keamanan mereka. Pembatasan yang dilakukan adalah respons sah terhadap invasi dan serangan berulang yang telah menyebabkan penderitaan rakyat Iran, termasuk serangan terhadap infrastruktur sipil.
Berbagai kalangan di Iran melihat ancaman Trump yang berulang-ulang ini sebagai bukti kelemahan strategi AS. Alih-alih mencapai kemenangan cepat seperti yang dijanjikan, agresi tersebut justru semakin menyatukan bangsa Iran dan memperkuat tekad perlawanan terhadap imperialisme.
Hingga berita ini diturunkan, Iran tetap pada posisinya: tidak ada gencatan senjata tanpa penghentian total agresi, dan tidak ada kompromi terhadap kedaulatan nasional. Rakyat Iran bersiap menghadapi segala skenario dengan semangat revolusioner dan keyakinan bahwa keadilan serta perlawanan akan menjadi pemenang.
Situasi di kawasan Timur Tengah tetap tegang. Ancaman Trump yang bombastis ini dikhawatirkan akan semakin memperburuk krisis energi global, sementara Iran terus menunjukkan ketangguhan dan kesiapan membela tanah airnya.







Epstein geng dijadikan teman… udah bagus diem aja gak gabung klo gak bisa apa2