Politikus Gerindra yang menjabat Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade menanggapi unggahan Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Andalas (BEM KM Unand) di akun Instagram @bemkmunand beberapa hari lalu yang menyebut “Presiden Pakak”.
Andre menegaskan kritik terhadap pemerintah sah-sah saja, tetapi harus disampaikan secara objektif dan beradab.
Andre mengatakan dirinya menerima kritik sebagai bagian dari dinamika demokrasi. Namun, ia menilai penggunaan istilah bernada makian terhadap kepala negara tidak mencerminkan tradisi kritik yang sehat di kalangan akademisi.
“Kita silakan mengkritik secara objektif, tapi gunakan adab. Kritik itu vitamin bagi pemerintah, tapi jangan sampai menyebut Presiden dengan kata-kata seperti itu,” kata Andre saat meresmikan BTS Telkomsel di Desa Kajai, Kecamatan Pariaman Timur, Kota Pariaman, Minggu (5/4/2026).
Ketua DPD Gerindra Sumbar ini mengingatkan bahwa Presiden sebagai kepala negara tetap harus dihormati, terlepas dari perbedaan pandangan politik
“Kita terbuka terhadap kritik. Silakan kritik pemerintah secara fair dan objektif, tapi gunakan adab. Bagaimanapun Presiden adalah kepala negara yang harus kita hormati,” ujarnya.
Arti “pakak”
Adapun istilah ‘pakak’ dalam bahasa Minang secara harfiah berarti tuli atau kurang pendengaran. Namun dalam praktik sehari-hari, kata tersebut juga kerap digunakan sebagai umpatan yang bermakna bodoh, bebal, atau tidak memahami persoalan.









wahaaaaaaiii antek-antek asing !!!
presiden aja boleh ngomong “etik ndasmu”, kenapa mahasiswa ngomong pakak dipermasalahkan?
Emang si rosiade punya adab ???
lha kenyataan emang gitu kan?
mau ngelak kayak apalagi???? wong kelakuan seperti itu
Emang dasar ANTEK TRUMPET & SETANYAHOK
kalo kritikan punya bukti…JANGAN MARAH…DREI