Bedanya Qatar dengan Saudi

Syekh Dr. Yusuf al-Qaradawi (الله يرحمه) menjelaskan sikapnya terhadap pangkalan militer AS di Qatar, bahwa dia telah mengingkari itu di depan publik, di mimbar dan semua itu diketahui oleh para pemimpin Qatar.

Dia mengatakan sikap tegasnya itu tidak membuat penguasa Qatar mengintimidasinya atau menangkapnya atau memenjarakannya. Padahal Syekh Dr. Yusuf al-Qaradawi hidup ‘menumpang’ di Qatar dan selama ini mendapat perlakuan yang baik dan penghormatan dari penguasa Qatar. (Kalau di Saudi, ulama yang berani menyuarakan berlawanan dengan penguasa akan ditangkap dan dipenjara, sudah banyak yang mengalaminya)

Menurut Syekh Yusuf al-Qaradhawi seorang alim harus menyampaikan kebenaran tak peduli pemerintah suka maupun tidak, tapi itu semua bukanlah berarti memusuhi pemerintah.

Berikut adalah transkrip lengkap dari video wawancara Syekh Yusuf al-Qaradhawi tersebut ke dalam Bahasa Indonesia: (video dibawah)

Pewawancara:
“Syekh Qardhawi, sebenarnya setiap kali nama Anda disebut, biasanya topik pangkalan militer Al-Udeid yang merupakan pusat komando militer Amerika di Qatar, tempat Anda tinggal sekarang, selalu diungkit. Apa komentar Anda mengenai keberadaan pangkalan ini? Saya ingin menanyakan hal ini langsung kepada Anda.”

Syekh Yusuf al-Qaradhawi:
“Saya menolak keberadaan pangkalan tersebut di Qatar. Saya juga menolak adanya kantor perwakilan Israel di Qatar. Saya telah menyatakan penolakan tersebut secara terbuka. Rakyat Qatar tahu hal ini, dan di atas segalanya, Emir Qatar pun mengetahui posisi saya. Saya tidak berbasa-basi dalam masalah ini.”

“Bahkan ketika Shimon Peres (mantan Presiden Israel) datang ke Qatar setelah pembantaian Qana, saya berkhutbah dan mengatakan bahwa mereka yang berjabat tangan dengan Peres harus mencuci tangan mereka tujuh kali, salah satunya dengan tanah. Saya sampaikan itu secara terang-terangan.”

Pewawancara:
“Lalu, apa reaksi dari pihak otoritas resmi di negara tempat Anda tinggal saat ini terkait kecaman Anda terhadap kunjungan tersebut dan keberadaan pangkalan itu? Apakah Anda mendengar tanggapan balik dari mereka?”

Syekh Yusuf al-Qaradhawi:
Wallahi, yang terpenting bagi saya adalah saya telah menyampaikan pendapat saya secara terbuka, dari atas mimbar, disiarkan langsung di televisi, dan disiarkan ke seluruh dunia melalui saluran televisi Qatar. Saya telah mengatakannya, namun mereka tidak menangkap saya. Apakah Anda ingin mereka menangkap saya setelah itu?”

Pewawancara:
“Tidak, saya hanya bertanya Syekh Qardhawi, apa reaksi mereka? Saya menanyakan ini sebagai sebuah informasi.”

Syekh Yusuf al-Qaradhawi:
“Mereka mengetahui posisi saya dan mereka menghargainya. Yang terpenting bagi saya adalah menyatakan pendapat saya. Saya telah menyatakan pendapat dalam banyak hal. Tugas saya bukan untuk selalu setuju dengan penguasa.”

“Saya mengatakan apa yang saya lihat benar, apakah itu sesuai atau bertentangan dengan mereka. Saya tulus dalam hal ini. Ini bukan berarti saya memusuhi atau sangat setia buta. Ini adalah pendapat seorang ulama Muslim yang wajib mengatakan apa yang ia yakini sebagai kebenaran. Sebagaimana firman Allah: (Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tidak merasa takut kepada siapa pun (selain kepada Allah)…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 komentar

    1. nah ini bagus.,cari prsamaan drpd prbedaan..
      sunni x syiah.,cari titik temunya..
      klo smua bgini.,ga lama cita2 muslim kuat brsatu bs trwujud..
      masala taqiyah rasa2nya tanpa jd syiah pun dpt brtaqiyah..

  1. Bebaskan Mekkah Madinah dari cengkraman Rezim Banu Saud Al-Wahhabi Al-Yahudi !!! Umat Islam seluruh dunia ayo bangkit !!! Wahabisme adalah racun sama seperti Zionisme.