Bahlil oh Bahlil

Buruknya kinerja Bahlil Lahadalia sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kini semakin menjadi sorotan publik. Dalam setahun terakhir, berbagai kebijakan yang dikeluarkan kementeriannya justru menimbulkan polemik dan ketidakpastian bagi dunia usaha maupun masyarakat luas. Bahlil dinilai gagal menjalankan fungsi strategis ESDM sebagai penjaga stabilitas energi nasional.

Salah satu kritik paling tajam datang dari kalangan industri yang menilai kebijakan Bahlil sering berubah-ubah dan tidak memiliki arah yang jelas. Program transisi energi terbarukan yang seharusnya menjadi prioritas nasional berjalan lamban, sementara ketergantungan pada batu bara dan impor BBM justru meningkat. Di sisi lain, penataan tata kelola migas dan pertambangan tidak menunjukkan kemajuan berarti. Banyak izin tambang yang tumpang tindih, dan indikasi konflik kepentingan masih kuat mengiringi kebijakan-kebijakan di sektor tersebut.

Selain itu, Bahlil juga dianggap gagal menjaga komunikasi publik yang baik. Dalam beberapa kesempatan, pernyataannya terkesan emosional dan tidak mencerminkan sikap seorang pejabat negara. Kinerja birokrasi di bawah kementeriannya pun stagnan, banyak proyek energi mangkrak tanpa tindak lanjut yang jelas.

Akibatnya, tingkat kepercayaan terhadap Bahlil menurun drastis. Sejumlah lembaga survei bahkan menempatkannya sebagai salah satu menteri dengan nilai kepuasan publik terendah. Dengan berbagai catatan negatif tersebut, desakan agar Bahlil mundur dari jabatannya kian menguat, sebagai bentuk tanggung jawab moral atas kegagalannya memimpin sektor vital energi nasional.

Jangan lupa tanda tangani petisi agar Bahlil di reshuffle (link: https://c.org/Cx6y9xYJ4H)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar