Bagaimana satu wanita ini mampu mempermalukan proyek sebesar MBG?

Gini ya. Di saat orang-orang pada ribut rebutan anggaran, debat sana-sini soal program, bikin jargon yang kedengarannya keren tapi ujungnya tetap nunggu cair, ada satu wanita yang diem-diem bikin semuanya keliatan malu. Bukan karena beliau teriak paling kenceng. Justru karena beliau nggak minta apa-apa.

Namanya Umi Waheeda.

Beliau ini nggak main proposal. Nggak main nangis ke kementerian. Nggak bawa map tebel isi RAB ke mana-mana. Di saat banyak lembaga hidup dari “bantuan”, beliau milih satu jalan yang jauh lebih capek: bikin mesin sendiri.

Dan mesin itu namanya Yayasan Al Ashriyyah Nurul Iman Islamic Boarding School.

Gratis total. Lo kebayang nggak sih 15.000 anak makan, sekolah, tinggal, tanpa ditagih? Dan itu bukan gratis karena subsidi gede. Bukan karena donor asing. Konsepnya jelas: zero proposal buat operasional rutin .

Sementara banyak proyek gede masih mikir “anggarannya dari mana?”, beliau udah mikir “produksinya gimana?”

Ada pabrik roti. Ada tahu. Ada susu kedelai. Ada bioflok lele. Ada percetakan. Ada toserba pake sistem voucher biar duit nggak bocor keluar. Uang saku santri muter di dalam. Diputer lagi. Jadi modal lagi. Jadi produksi lagi.

Ini bukan ceramah. Ini ekonomi.

Makanya gue bilang, satu wanita ini bisa bikin proyek MBG keliatan kayak presentasi PowerPoint. Karena beliau nggak ngomong pemberdayaan. Beliau jalanin. Nggak ngomong ketahanan pangan. Beliau tanam sawah ratusan hektar. Nggak ngomong kemandirian ekonomi umat. Beliau bikin 59 unit usaha.

Bedanya di mana?
Yang satu nunggu cair.
Yang satu nyari cara.

Dan yang bikin makin nendang, beliau perempuan. Di lingkungan yang biasanya cowok banget. Yang biasanya suara perempuan cuma dianggap pelengkap. Tapi realitanya? Beliau pegang ribuan santri. Ngatur sistem sebesar kota kecil. Tegas? Iya. Disiplin? Banget. Tapi tetap dipanggil Umi.

Gue suka satu poinnya: beliau pernah lawan pungli dari Pemerintah.

Nah ini bagian yang jarang dibahas siapapun, padahal menurut gue ini salah satu momen paling “berani” dalam sejarah beliau.

Jadi sekitar Desember 2008, Umi Waheeda bareng almarhum suaminya nggak cuma duduk diam waktu ada dugaan pungutan liar dari oknum Departemen Agama (sekarang Kemenag). Yang biasanya terjadi kan gini: lembaga pendidikan ditekan halus, dipersulit administrasinya, diputar-putar izinnya, lalu muncul “jalan pintas” yang sifatnya nggak resmi. Banyak yang akhirnya milih nurut, karena takut izin dicabut atau operasional diganggu.

Tapi ini beda.

Beliau justru memimpin sekitar 12.000 santri turun langsung menyuarakan penolakan pungli. Bayangin, 12 ribu. Itu bukan jumlah kecil. Itu sudah kayak satu stadion kecil bergerak. Aksi itu diberitakan media waktu itu. Intinya jelas: pesantren ini nggak mau main di jalur gelap. Kalau ada yang coba-coba main kotor, lawan terang-terangan.

Dan ini penting banget buat dibaca pelan-pelan.

Karena pesantren ini dari awal konsepnya kemandirian. Nggak hidup dari proposal. Nggak tergantung dana rutin eksternal untuk operasional. Jadi ketika ada tekanan birokrasi, posisi tawarnya beda. Mereka nggak lagi dalam posisi “takut kehilangan bantuan”. Justru bisa berdiri dan bilang: kami nggak mau dipalak.

Menurut gue, ini bukan sekadar demo. Ini pesan keras ke birokrasi: jangan anggap lembaga pendidikan selalu lemah. Jangan kira semua bisa ditekan pakai administrasi.

Di banyak kasus, pungli itu hidup karena dua pihak sama-sama main: yang minta dan yang takut. Tapi waktu satu pihak nolak dan berani buka suara, permainan jadi beda.

Dan yang bikin ini makin nendang, yang berdiri di depan bukan pejabat, bukan politisi, tapi seorang perempuan pemimpin pesantren. Itu simboliknya kuat banget.

Beliau sadar risiko. Lawan birokrasi itu nggak enak. Bisa dipersulit. Bisa diaudit berkali-kali. Bisa dicari-cari celahnya. Tapi kalau dari awal sistem internalnya rapi dan nggak bergantung, ya mentalnya juga beda.

Gue lihat di sini satu hal: kemandirian ekonomi bukan cuma soal uang. Tapi soal keberanian bersikap. Kalau hidup lu tergantung pada sistem yang sama yang lu kritik, biasanya suara lu pelan. Tapi kalau lu punya mesin sendiri, suara lu bisa lantang.

Dan ini nyambung ke benang merah besar tadi — menjaga harga diri. Bukan cuma harga diri ribuan santri, tapi juga harga diri lembaga. Jangan sampai pendidikan jadi ladang pungli.

Sekarang pertanyaannya lebih luas: berapa banyak lembaga yang sebenarnya tahu ada permainan kotor tapi milih diam karena takut? Dan berapa banyak yang benar-benar berani bilang tidak?

Di situ bedanya pemimpin biasa dan pemimpin yang punya tulang belakang.

Artinya bukan anti negara. Tapi anti mentalitas kotor. Kalau sistemnya rusak, jangan ikut rusak. Jangan jadikan alasan buat nyerah.
Dan di situ letak tamparannya.
Kita ini sering banget kebiasaan jadi korban sistem. “Ya mau gimana lagi?”
Padahal selalu ada opsi lain: bikin jalur sendiri.
Memang capek. Memang berdarah-darah. Tapi setidaknya nggak kehilangan harga diri.

Di saat orang sibuk berebut anggaran, ada ibu yang bilang: anak-anak gue nggak akan tumbuh dari sisa-sisa. Dan kalimat itu aja udah cukup buat bikin banyak proyek keliatan kecil.

Jadi ini bukan soal ngejatuhin siapa. Ini soal standar. Kalau satu orang bisa bangun mesin sendiri tanpa jadi pengemis anggaran, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan programnya doang.
Tapi mentalitas kita.

Umi Waheeda ini bukan tipikal figur yang lahir dari kampung pesantren terus naik alami. Beliau lahir di Singapura, 1968. Sekolahnya sistem Cambridge. Anglo Chinese. Crescent Girls. Bahasa Inggris bukan sekadar bisa, tapi native level. Dari kecil udah hidup di kultur disiplin, kompetitif, rapi. Itu penting, karena pola pikir sistematisnya kebentuk dari situ.

Terus titik beloknya di akhir 80-an.
Hijrah ke Indonesia. Masuk dunia pesantren. Nikah sama Habib Saggaf. Dari situ bukan cuma jadi istri kyai yang duduk manis. Tapi ikut bangun dari nol. Tanah kosong, ilalang, krisis 98 lagi kacau-kacaunya. Orang lain sibuk nyelametin diri, beliau malah buka pesantren gratis.

Dan jangan salah, beliau ini nggak anti pendidikan formal. S1 Psikologi UI. S2 Komunikasi di LSPR, bahkan lulus best student. Doktoral juga temanya kepemimpinan perempuan dan manajemen pesantren. Artinya apa? Beliau nggak cuma jalanin sistem, tapi ngerti teorinya. Nggak cuma naluri, tapi ada landasan akademiknya.

Waktu suaminya wafat 2010, di situ momen krusial. Banyak lembaga tumbang kalau figur sentralnya hilang. Tapi di sini justru beliau ambil full kendali. Dan wasiat yang ditinggalkan cuma satu: pesantren harus tetap gratis sampai kiamat. Itu kalimat bukan main-main. Itu beban finansial luar biasa.

Gaya kepemimpinannya unik. Orang sering bilang beliau itu kombinasi “ibu” dan “besi”. Keibuan iya. Tapi tegas banget juga. Kalau ngatur 15 ribu santri nggak mungkin cuma pakai senyum. Harus ada sistem. Harus ada disiplin. Dan beliau nggak takut ambil keputusan keras kalau perlu.

Yang bikin gue angkat topi itu satu: beliau sadar betul sebagai perempuan di dunia pesantren yang cenderung patriarkis, legitimasinya cuma satu — kinerja. Bukan garis keturunan. Bukan simbol. Tapi hasil nyata. Dan hasilnya ya itu tadi, 59 unit usaha jalan. Ribuan anak makan tiap hari. Sekolah formal ada dari PAUD sampai perguruan tinggi.

Beliau juga bukan tipe yang cuma main lokal. Pernah bicara di forum pengusaha Asia Tenggara. Artinya jejaringnya luas. Tapi tetap balik ke pesantren. Tetap fokus di mesin ekonomi internal.

Kalau diringkas, profil beliau itu campuran langka: pendidikan Barat, jiwa pesantren, otak manajer, mental aktivis, dan naluri ibu. Itu kombinasi yang jarang banget.

Dan mungkin di situlah letak kekuatannya. Beliau nggak dibentuk cuma oleh tradisi, tapi juga oleh sistem modern. Jadi ketika harus bikin pesantren jadi ekosistem ekonomi, beliau nggak kaget. Karena cara mikirnya memang struktural dari awal.

Nah sekarang kalau kita tarik ke narasi besar tadi — ini bukan cuma soal satu wanita hebat. Ini soal blueprint. Bahwa kemandirian itu bisa dibangun kalau pemimpinnya ngerti sistem, ngerti manusia, dan nggak punya mental pengemis anggaran.

(Oleh: Balqis Humaira)

Komentar