Anak SMK Lebih Pinter dari Presiden

✍🏻Ahmad Tsauri

Saya ikut senang ada anak SMK yang berinisiatif mengalihkan jatah makannya, untuk para guru yang belum mendapatkan gaji yang layak. Dia hitung selama 1,5 tahun sekitar 6,5 Juta.

Itu satu anak, hanya 1,5 tahun, kalau 2, 3, 6 tahun? kalau gerakan ini masif lebih banyak lagi dana yang bisa dialihkan. Walaupun model kepemimpinan Prabowo “buta tuli” tidak akan mendengar aspirasi, dia bukan akan menerima dengan lapang dada surat terbuka itu, malah akan menuding perbuatan makar yang by desain, atau ada aktor dan dalang dibaliknya.

Tapi MBG ini memang buang-buang duit, dibanyak sekolah MBG jalan katering mereka juga jalan, karena orang tua tidak yakin aman dan tidak yakin anak mereka selalu memakannya. Misalnya di sekolah al-Irsyad Pemalang.

Di pondok-pondok modern, saya kasih catatan ya, pondok modern, yang biayanya 1 juta sampai jutaan sebulan adanya MBG yang sekitar 240.000 per santri per anak, tidak mengurangi biaya pondok.

Logika waras, jika spp persantri, sudah plus makan 1 juta dengan adanya MBG maka ada pengurangan sekitar 200.000, harusnya spp tinggal sekitar 800.000.

Belum lagi menghitung biaya operasional dan sewa dapur per opmreng Rp.4000 x 5000 santri saja, pak Yai sudah dapat 20.000.000 sehari, sebulan setahun dan seterusnya.

Doktrin mereka pak yai kelaur uang banyak untuk MBG, dan MBG uangnya tiap hari dari pak Yai. Dan banyak ortu yang percaya. Dari SPP saja kiyainya sudah kaya raya, ditambah dari MBG milyaran.

Jadi sama sekali gak ada faidahnya MBG itu. Saya setuju MBG… tapi untuk anak-anak kurang mampu, daerah plosok daerah terluar.

👇👇

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *