Anak Cak Nun jadi staf ahli, langsung pasang badan bela MBG

PEMBODOHAN ATAU TUMPULNYA ANALISA SABRANG?

✍🏻Ahmad Tsauri

1- Mas Sabrang, begini loh mas. Memang anak-anak itu belum punya hak pilih 2029 nanti. Itupun yang TK, SD- SMP, kalau SMK-SMK yang kelas 1 pun nanti 2029 sudah punya hak pilih apalagi anak SMA yang 2026 ini kelas 3. Clear ya mas.

2- Kedua, secara hierarki MBG ini, secara stuktur setingkat kementrian BGN, untuk selevel dirjen, eselon itu mayoritas purnawirawan TNI, bahkan yayasan-yayasan di daerah sebagian besar berafiliasi ke Yayasan-yayasan pensiunan TNI. Clear ya Mas.

3- Ketiga, MBG itu tanpa menghitung tanah, bangunan dan equipment lengkap butuh modal 1,5 M. Dan yang mampu itu pasti pengusahan menengah dan pejabat, pejabat itu pasti DPR-DPRD. Clear ya Mas.

4- Keempat, ini para owner yang berafiliat lagi ke yayasan, mereka yang punya modal tapi tidak punya koneksi. Jumlahnya ribuan. Mereka ini kelompok 12-11 ribu ke bawah. Alias harus muter otak untuk biaya sewa gaji, operasional dan belanja bahan karena Yayasan sudah memotong dengan alasan ini itu, Rp. 4000 dari 5000 jatah operasional. Clear ya Mas.

5- Kelima, para kader SPPG (lupa singkatannya saya), ini anak-anak yang jadi kepala dapur, dibawah owner, setara ahli gizi dan akuntan. Tapi SPPG inilah yang Juli 2025 lalu sudah diangkat ASN.

6- Keenam, koki, helper, driver, dan staf packing-cuci ompreng. Kalikan saja 40 orang x 30.000 dapur (target 2026-2027). Klaim Prabowo sudah 1 juta orang. Level inilah yang dia maksud, “saya sudah menciptakan 1 juta lapangan kerja hanya dari MBG”. Clear ya mas.

7- Ketujuh, pengusaha kakap seperti Pokpand, Jafpa, Widodo Makmur, Ultra Jaya, sampai tengkulak kecil yang sudah dibeking aparat dan jejaring kroni untuk menyuplai dapur-dapur MBG. Clear ya mas.

Dari point 1-7 itu tidak mungkin mereka mau sumber cuan nya berhenti hanya karena Prabowo kalah di pilpres 2029, kalau dia ada umur. Jadi jangan menutupi bobroknya MBG dengan klaim ini dari negara untuk bangsa bukan dari pemerintah untuk rakyat, karena siswa tidak punya hak pilih.

Poin kedua sampai ketujuh itu mesin politik yang sangat-sangat mengerikan. Kenapa? Sebulan laba satu dapur sekitar 200 jutaan. Setahun 2.4 M, 5 tahun minimal 12 M, 1 dapur. Rata-rata 3-40 dapur per orang. Kalau 5 dapur saja 60 M dalam 5 tahun. Ini untuk level 3-4. Ini bakal brutal sekali.

Belum mesin politik Prabowo yang lain, semua pesantren dapat MBG. Bayangkan yang santrinya 5000-20.000 santri. Dapat MBG SPP bulanan utuh. Ngeri tuh. Belum jutaan kades, lurah dan aparat desa dan karyawan Kopdes merah putih. Belum ormas-ormas dikasih mainan, seperti MUI dijanjikan bangun gedung sampai 40 lantai.

Itu alasan kenapa Prabowo tidak peduli suara rakyat. Saya kok berfikir bukan karena pembisik, dan ABS saja tetapi rakyat diabaikan karena Prabowo confidence (percaya diri) dia sudah memegang simpul-simpul kemenangan di pilpres 2029. Jadi rengekan rakyat gak berpengaruh.

Saran saya, urusan politik kita semua berpikir independen. Gak ada juga ulama yang mikiri rakyat. Cari selamat masing-masing. Benerkan?

Ngapunten mas Sabrang, makanya sekalipun saya gak pernah tertarik denger omongan ngalor-ngetane sampean. Sampean nyinggung spiritual tapi tidak pernah mendengar sampean menautkan sanad dan mengajarkan ritual. Ngapunten sanget mas. Kulo terus terang mawon.

Efeknya kritik subjektif karena kedekatan. Tapi alangkah bijaksana menghindari tema-tema konflik kepentingan seperti ini. Karena masuknya sampean pembodohan masyarakat. Publik sekarang sudah kritis, akhirnya bakal jadi bumerang buat sampean.

(Ahmad Tsauri)

*sumber: fb

Komentar