Anak Buah Luhut Janjikan 130 Ribu Loker di Jateng, Benarkah?

Kabar mengenai pembukaan 130 ribu lapangan kerja baru di Jawa Tengah sontak menarik perhatian publik. Di tengah isu pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai daerah, pernyataan itu terdengar seperti oase di padang gersang.
Namun, seberapa nyata janji tersebut bisa terwujud?

Pernyataan itu datang dari Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Septian Hario Seto, yang dikenal sebagai salah satu anak buah kepercayaan Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan. Dalam sebuah acara di St. Regis Jakarta, Jumat (24/10), Seto mengungkapkan hasil studi tim DEN yang baru saja melakukan kunjungan lapangan ke sejumlah pabrik di Jawa Tengah.

“Di catatan kami, ada lebih dari 130 ribu lapangan pekerjaan yang akan dibuka karena ekspansi pabrik-pabrik ini,” ujar Seto, seperti dikutip dari DetikFinance.
Ia menyebutkan, sebagian besar pabrik baru itu berlokasi di Tegal, Semarang, Brebes, Pekalongan, hingga Pemalang — kawasan yang kini sedang naik daun sebagai sentra industri padat karya baru di Pulau Jawa.

Pabrik Mengeluh Kekurangan Pekerja

Menariknya, di tengah rencana besar pembukaan lapangan kerja, para pengusaha justru menghadapi masalah yang tak terduga: kekurangan tenaga kerja.
Menurut Seto, banyak pabrik yang kesulitan merekrut karyawan tetap karena tingginya tingkat turnover di kalangan pekerja muda.

“Lulusan SMK sebenarnya banyak, tapi mereka gampang bosan. Baru beberapa bulan kerja, langsung pindah ke pabrik lain,” ujarnya.
Fenomena itu membuat banyak perusahaan kesulitan menjaga stabilitas produksi, meskipun permintaan pasar dan ekspansi industri terus meningkat.

Jalan Tol Jadi Daya Tarik Investasi

Seto menilai, salah satu alasan mengapa banyak investor memilih Jawa Tengah adalah karena kemudahan akses jalan tol Trans Jawa. Lokasi pabrik yang berada di dekat exit tol membuat ongkos logistik lebih efisien, sementara biaya tenaga kerja di wilayah itu masih tergolong kompetitif dibandingkan daerah industri besar seperti Bekasi atau Karawang.

Selain efisiensi, faktor sosial juga berperan. Di beberapa daerah Jawa Tengah, kehidupan masih relatif tenang, biaya hidup lebih rendah, dan daya saing tenaga kerja belum seketat kawasan industri di Jawa Barat. Hal itu menjadikan Jateng sebagai lahan baru bagi investasi pabrik besar, khususnya di sektor garmen dan alas kaki.

27 Pabrik Baru, Tapi Belum Semua Beroperasi

Data DEN mencatat ada 27 pabrik baru di sektor tersebut yang kini dalam berbagai tahap pembangunan.
Sekitar 10 pabrik telah rampung mengurus izin dan sedang membangun fasilitas produksi, sementara 1–2 pabrik sudah mulai beroperasi.
Sisanya, 17 pabrik lagi masih berproses, sebagian bahkan melakukan pembangunan paralel sambil melengkapi izin usaha.

“Kalau semua berjalan lancar, tahun depan sebagian besar akan mulai produksi,” kata Seto optimistis.

Janji atau Realita?

Kendati kabar pembukaan 130 ribu lapangan kerja ini terdengar menggembirakan, sejumlah kalangan menilai perlu ada verifikasi dan pengawasan lebih lanjut.
Pasalnya, belum semua pabrik yang disebutkan benar-benar siap produksi. Sebagian masih di tahap konstruksi atau sekadar komitmen investasi di atas kertas.

Namun demikian, tanda-tanda kebangkitan industri di Jawa Tengah memang mulai terasa.
Beberapa kawasan industri baru terus tumbuh, dan pemerintah daerah berlomba mempercepat perizinan agar investor tak hengkang ke wilayah lain.

Jika semua rencana ekspansi itu benar-benar terealisasi, bukan tak mungkin Jawa Tengah akan menjadi episentrum baru lapangan kerja manufaktur Indonesia.

“Harapannya, tahun depan semua pabrik ini bisa berjalan dan menyerap tenaga kerja lokal sebanyak mungkin,” ujar Seto menutup pernyataannya dengan nada optimis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *