KEMANA ORANG DAYAK SAAT KARHUTLA?
Ada tulisan dari orang Dayak untuk orang Dayak yang saya jadikan poster di atas, linknya ada di sini https://www.facebook.com/share/p/1GswqSVvYC/
Kalau saya yang menulis ini kesannya jadi sentimen kesukuan, tapi ini tulisan dari orang Dayak sendiri.
Kita yang bukan orang Dayak bertanya tanya…
Ketika IKN disinggung, disebut tempat jin buang anak, banyak yang maju paling depan membela tanah dan harga diri.
Tapi ketika hutan Kalimantan terbakar, kabut asap mengancam kesehatan, mengapa suara yang sama terasa begitu sepi?
***
Berikut tulisannya:
ADA APA DENGAN DAYAK? SEMUA ADA, PENGARUH ADA, TAPI SUARA UNTUK KARHUTLA MASIH TERASA SEPI!
Media Dayak banyak. Ormas Dayak banyak. Selebgram, musisi, seniman, artis, bahkan panglima Dayak pun tidak sedikit. Pengaruh ada, jaringan ada, panggung ada, pengikut ada.
TAPI, KETIKA KALIMANTAN TERBAKAR DAN KABUT ASAP MENGANCAM KESEHATAN MASYARAKAT, DI MANA SUARA KALIAN?
Jangan hanya ramai ketika ada acara adat, perayaan budaya, atau kebanggaan identitas. Ketika tanah kelahiran menghadapi karhutla, ketika masyarakat menghirup udara tercemar, ketika anak-anak dan orang tua terancam kesehatannya, persoalan ini seharusnya juga menjadi perhatian bersama.
Apa arti pengaruh besar jika persoalan yang menyangkut kehidupan masyarakat sendiri tidak mendapat ruang yang sepadan?
JANGAN HANYA BANGGA MENJADI DAYAK, TAPI LUPA MEMBELA TANAH TEMPAT KITA BERPIJAK!
Ini bukan soal siapa paling Dayak. Bukan pula menafikan mereka yang sudah bergerak. Ini adalah tamparan bagi kesadaran kolektif kita: mengapa kekuatan sebesar ini belum terdengar lebih lantang dalam menyuarakan karhutla dan kabut asap?
Media punya suara. Ormas punya massa. Selebgram dan artis punya jangkauan. Musisi dan seniman punya karya. Panglima punya pengaruh di tengah masyarakat.
KALAU SEMUA BERGERAK BERSAMA, SUARA KALIMANTAN TIDAK AKAN MUDAH DIABAIKAN!
Jangan tunggu sampai kabut asap semakin parah untuk mulai peduli. Jangan tunggu keluarga sendiri jatuh sakit untuk menyadari bahwa udara bersih adalah hak semua orang.
DAYAK TIDAK KEKURANGAN TOKOH, TIDAK KEKURANGAN PENGARUH.
PERTANYAANNYA, MAU SEJAUH MANA SEMUA ITU DIGUNAKAN UNTUK MEMPERJUANGKAN KALIMANTAN?
Tanah ini bukan sekadar kebanggaan. Tanah ini adalah rumah kita bersama!








Orang dayak jg manusia, butuh duit buat hidup, apalagi duitnya milyaran sogokan pengusaha sawit dan oligarki. Sekelas menhut sj diem wkt disogok, apalagi cuma orang kecil suku dayak yg maaf2 gak punya agama … mereka itu galaknya sama orang luar yg menghina tanah leluhurnya, jg dg ulama2 yg ingin menebarkan iman dlm hati mereka yg gersang …
kan di janjikan bisa masuk tentara walau badannya penuh tatto
Orang2 kafir di konoha itu rata2 sangat bodoh, kalo kerusakan masyarakat dan alamnya belum terlihat mereka belum akan sadar, bahkan tokoh dan pemuka agama mereka cenderung membisu.
Beda banget dengan masyarakat dayak tahun 80’an. Yang sekarang amsyoonnggg kosong.
sang panglima khatulistiwa kulitnya putih
mereka itu cuma sekelompok makhluk munafik, sama kayak pejabat indon.
kasihan suku Dayak sudah banyak dibohongi sama Jkw, makanya mereka putus asa…. masa, bodo
akal sehatnya sudah keracunan cuan…..mulutnya penuh dengan mbg
Sekarang tinggal generasi penerus cicitnya saja yang sudah tercuci otaknya pemalas dan manja, ga ada mental pekerja keras atau jiwa pejuang, gampang terbuai cuan.