Yahya Sinwar ‘Sang Jenius’

“[Yahya] Sinwar diadili oleh Israel pada tahun 1988 dan dijatuhi hukuman empat kali penjara seumur hidup. Ia tetap diam sepanjang sebagian besar persidangan, memberikan sedikit pembelaan, dan kadang-kadang tampak sama sekali acuh tak acuh. Selain ‘Si Pemburu Mata-mata’ (Sinwar dikenal kelihaiannya memburu agen mata-mata yang bekerja untuk Israel) ia memiliki julukan lain di kalangan rekan-rekan tahanan: ‘Sang Tembok.’ Ia tidak goyah di bawah tekanan interogasi ataupun membocorkan satu nama pun, dan para interogator serta penyiksa ‘Israel’-nya tidak melihat tanda-tanda ketakutan pada dirinya. Hukuman penjara yang panjang—yang biasanya akan membuat tahanan atau narapidana mana pun menjadi gila—justru memberikan kesempatan emas bagi Sinwar untuk berpikir dan merumuskan rencana-rencananya. Ia mendalami teks-teks berbahasa Ibrani, surat kabar ‘Israel’, dan studi tentang masyarakat ‘Israel’ karena ia ingin berpikir sebagaimana mereka berpikir. Para pejabat ‘Israel’ sendiri menyadari fenomena ini dan menyebut jenis penahanan semacam itu sebagai ‘universitas penjara’.”

—Mehr News Agency, “Negāhī be kār-nāmeh-ye ‘Shekārchī-ye Jāsūsān’” [Pandangan terhadap Rekam Jejak ‘Pemburu Mata-mata’], Mordād 26, 1405 [17 Agustus 2026].

Yahya Sinwar fasih menguasai bahasa Ibrani yang ia pelajari secara otodidak selama mendekam di penjara Israel dari tahun 1988 hingga 2011. Selama 22 tahun masa penahanannya, ia memanfaatkan waktu untuk mempelajari bahasa, budaya, dan psikologi masyarakat Israel guna memahami pola pikir musuhnya secara mendalam.

Berikut beberapa fakta mengenai bagaimana Sinwar menguasai dan memanfaatkan bahasa Ibrani selama di penjara:

  • Sebab dipenjara: Yahya Sinwar dijatuhi empat hukuman penjara seumur hidup oleh otoritas Israel pada tahun 1988. Secara spesifik, dakwaan utama yang menjeratnya meliputi:
    • Penculikan dan pembunuhan dua tentara Israel.
    • Pembunuhan terhadap warga Palestina (berjumlah antara 4 hingga 12 orang berdasarkan berbagai catatan) yang dituduh dan dicurigai sebagai kolaborator atau mata-mata yang bekerja sama dengan militer Israel.
    • Pembunuhan tersebut dilakukan melalui Majd (organisasi keamanan internal sayap awal Hamas) yang ia dirikan untuk melacak dan menghukum orang-orang yang dinilai berkhianat terhadap perjuangan Palestina.
  • Metode Belajar Mandiri & Praktik Langsung: Sinwar mempelajari bahasa Ibrani melalui program daring, membaca surat kabar Israel, dan mempelajari karya-karya Zionis awal. Ia juga mengasah kemampuan berbicaranya dengan berkomunikasi langsung dengan para sipir penjara Israel.
  • Menerjemahkan Buku: Kemampuan bahasanya yang sangat baik bahkan membuat ia mampu menerjemahkan buku dan menulis novel selama berada di dalam sel.
  • Wawancara dengan Media Israel: 15 tahun setelah menjalani masa hukumannya, Sinwar sempat melakukan wawancara dalam bahasa Ibrani yang fasih di televisi Israel untuk menyerukan gencatan senjata antara Israel dan Hamas.
  • Menganalisis Berita: Kemampuan ini terus ia gunakan untuk memantau dan menganalisis berita-berita internal Israel (berbahasa ibrani) secara ekstensif guna merumuskan strategi politik dan militernya.

Setelah dibebaskan dalam kesepakatan pertukaran tahanan pada tahun 2011, pengetahuan mendalam tentang Israel yang ia dapatkan di penjara menjadi modal utama bagi Sinwar hingga menjadi pemimpin tertinggi Hamas di Gaza dan merumuskan operasi “Banjir Al-Aqsa” 7 Oktober 2023.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *